Di hutan boreal Siberia yang dingin, hidup seekor amfibi kecil yang mampu bertahan dalam suhu ekstrem hingga -55°C.

Salamander Siberia (Salamandrella keyserlingii) termasuk dalam ordo urodela dan merupakan salah satu dari sedikit vertebrata yang bisa bertahan hidup dalam keadaan beku total.

>>> Awalnya Jualan Burger, Kini Insaf Putra Bintangi Serial Komedi dengan 13 Juta Subscriber

Ketika musim dingin tiba, suhu tanah di kawasan ini turun drastis. Namun, salamander ini memiliki mekanisme unik: tubuhnya memproduksi gliserol, molekul antibeku yang menurunkan titik beku cairan tubuh.

Akibatnya, sel-selnya tidak membeku sepenuhnya dan jaringan tetap utuh meski hewan itu sendiri terperangkap dalam es.

Tidur Panjang yang Luar Biasa

Setiap musim gugur, sekitar bulan September, salamander Siberia mulai hibernasi. Mereka bersembunyi di celah-celah kayu atau lubang tanah, lalu membeku di tempat.

Hibernasi berlangsung hingga salju mencair antara April dan Mei.

Yang menakjubkan, beberapa individu mampu bertahan dalam keadaan beku selama bertahun-tahun.

>>> Seragam Sekolah Layak Masih Jadi Mimpi Sebagian Anak Indonesia

Pada tahun 1993, tim ilmuwan di lembah Sungai Kolyma, Siberia timur laut, berhasil menghidupkan kembali seekor salamander yang terperangkap dalam es selama beberapa tahun.

Tidak semua salamander selamat—banyak yang mati jika suhu terlalu dingin. Namun, sebagian muncul kembali tanpa cedera dan siap melanjutkan hidup.

Inspirasi bagi Ilmu Pengetahuan

Kemampuan luar biasa salamander Siberia menjadi subjek penelitian para ahli biologi. Studi dalam bidang kriobiologi terinspirasi oleh mekanisme alami ini.

Para ilmuwan berharap suatu hari dapat mengembangkan cara baru untuk membekukan jaringan, organ, atau bahkan sel manusia untuk keperluan medis.

>>> Jadwal Tayang Anime Summer 2026: Draw This, Then Die! hingga My Hero Academia

Jadi, saat Anda mengeluh kedinginan di musim dingin, ingatlah bahwa salamander Siberia mungkin memegang kunci bagi masa depan ilmu pengetahuan di balik kulitnya yang beku.