Kementerian Kesehatan RI mendorong seluruh pelaku usaha di sektor kesehatan untuk berpartisipasi aktif dalam Sensus Ekonomi (SE) 2026.

Langkah ini bertujuan menghasilkan data akurat sebagai dasar penyusunan kebijakan, penguatan investasi, dan percepatan pertumbuhan industri kesehatan nasional.

>>> Samator Indo Gas Bagikan Dividen Rp35 Miliar ke Pemegang Saham

Sektor kesehatan saat ini tumbuh di atas rata-rata pertumbuhan ekonomi nasional.

Pemerintah membutuhkan data yang lebih lengkap untuk merumuskan kebijakan yang mendorong pertumbuhan sektor tersebut dan meningkatkan kontribusinya terhadap perekonomian Indonesia.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyatakan, jika sektor dengan pertumbuhan di atas rata-rata didorong lebih cepat, peluang mencapai target pertumbuhan ekonomi 8 persen akan semakin besar.

Sektor kesehatan juga berpotensi menciptakan lapangan kerja baru dan memberikan kontribusi lebih besar bagi perekonomian nasional.

Pertumbuhan jasa kesehatan tercatat mencapai sekitar 7,6 persen, industri farmasi 7,5 persen, dan industri alat kesehatan menyentuh angka sekitar 12 persen dari tahun sebelumnya.

Namun, gambaran ekonomi ini belum terlihat utuh karena aktivitasnya masih tersebar dalam berbagai kelompok statistik.

Menkes Budi menegaskan, jika data yang masuk tidak lengkap atau tidak akurat, kebijakan yang dihasilkan juga tidak akan tepat.

Ia mengajak seluruh pelaku usaha dan organisasi di sektor kesehatan untuk berpartisipasi aktif dalam Sensus Ekonomi 2026.

>>> Mehdi Taremi Soroti Ketegangan Pemeriksaan Piala Dunia 2026 di AS

Partisipasi aktif diharapkan datang dari rumah sakit, klinik, laboratorium, apotek, industri farmasi, alat kesehatan, hingga organisasi profesi.

Melalui sensus ini, pemerintah mengincar data menyeluruh terkait aktivitas usaha, investasi, penyerapan tenaga kerja, dan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi.

Kepala Badan Pusat Statistik RI Amalia Adininggar Widyasanti menyebut Sensus Ekonomi pada esensinya merupakan general check-up bagi ekonomi Indonesia.