Untuk pertama kalinya, para ilmuwan berhasil mengintip langsung permukaan sebuah exoplanet berbatu.

Prestasi ini dicapai oleh tim yang dipimpin Sebastian Zieba dari Harvard-Smithsonian Center for Astrophysics dan Laura Kreidberg dari Max Planck Institute for Astronomy.

in1

>>> Alasan Atlet Piala Dunia Pakai Sepatu Pink, Bukan Cuma Gaya

Studi mereka yang diterbitkan di Nature Astronomy melaporkan spektrum emisi termal pertama yang direkam langsung dari permukaan exoplanet berbatu.

Temuan ini secara efektif membuka bidang studi baru: geologi exoplanet.

Planet yang Dirancang untuk Pengamatan Geologi

LHS 3844 b berjarak sekitar 48 tahun cahaya dari Bumi. Planet ini mengorbit bintang katai merah sangat dekat sehingga satu tahun di planet hanya berlangsung 11 jam.

Karena jaraknya kurang dari 1% jarak Bumi-Matahari, planet ini terkunci secara pasang surut.

Satu sisi menghadap bintang dalam siang permanen dengan suhu permukaan melebihi 1.300°F, sementara sisi lainnya mengalami malam abadi.

Orbit yang ketat ini menjadikan LHS 3844 b target yang sangat bersih.

Di antara semua exoplanet berbatu yang diketahui melintas di depan bintangnya, planet ini menghasilkan sinyal emisi termal terkuat relatif terhadap kebisingan latar belakang.

Data sebelumnya dari Teleskop Luar Angkasa Spitzer menunjukkan bahwa planet menyerap sebagian besar cahaya bintang dan hampir tidak menahan panas di sisi malamnya.

Ini menandakan batuan kosong dan gelap. Namun, Spitzer hanya bisa mengukur satu pita panjang gelombang lebar, meninggalkan komposisi batuan yang sebenarnya sebagai misteri.

Membaca Spektrum Seperti Sampel Batuan

Tim peneliti mengatasi keterbatasan ini menggunakan Instrumen Inframerah Tengah pada Teleskop Luar Angkasa James Webb (JWST).

Dengan mengamati planet saat melintas di belakang bintang induknya selama tiga gerhana terpisah, tim mengukur emisi termal pada panjang gelombang 5 hingga 12 mikron.