Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan Indonesia masih bergantung pada impor untuk memenuhi kebutuhan bahan baku obat nasional.

Saat ini sekitar 70-80% active pharmaceutical ingredients (API) masih didatangkan dari luar negeri.

in1

>>> Vivo X500 Pro Max Muncul di Database IMEI, Empat Model Global Direncanakan

Angka tersebut sudah membaik dibandingkan beberapa tahun lalu ketika ketergantungan impor mencapai lebih dari 90%. "Waktu kita masuk memang di atas 90% impor.

Sekarang sekitar 70-an sampai 80% yang kita impor," kata Budi usai menghadiri forum di Kantor Dewan Ekonomi Nasional (DEN), Jakarta, Rabu (24/6/2026).

Industri farmasi nasional sebenarnya sudah mampu memproduksi berbagai jenis obat jadi.

Namun, bahan baku utama masih banyak berasal dari luar negeri sehingga nilai tambah industri kesehatan belum sepenuhnya dinikmati Indonesia.

Hilirisasi Industri Farmasi

Pemerintah kini mendorong hilirisasi industri farmasi agar rantai produksi obat dapat dilakukan dari hulu ke hilir di dalam negeri.

"Tadi Ibu Rizka sudah bikin 35 API yang dibikin di Indonesia. Dan itu akan kita tingkatkan terus supaya makin lama makin banyak yang dibikin Indonesia," ujarnya.

Budi mencontohkan produksi paracetamol yang masih bergantung pada bahan baku impor. Padahal sebagian bahan dasar industri tersebut sudah tersedia di Indonesia melalui industri petrokimia nasional.

"Nah itu yang sekarang lagi kita rangkai membangun industri kesehatan agar benar-benar pertumbuhan GDP dan pertumbuhan tenaga kerjanya bisa terjadi di Indonesia," kata Budi.

Pabrik Pengolahan Plasma Darah

Selain memperkuat produksi bahan baku obat, pemerintah juga mulai mengembangkan industri pengolahan plasma darah di dalam negeri.

Selama ini Indonesia masih mengimpor berbagai produk turunan plasma darah, termasuk immunoglobulin yang digunakan untuk terapi sejumlah penyakit.