>>> Infinix Note 60 Pro Pininfarina Edition Resmi Diluncurkan di India

Menurut Budi, Indonesia memiliki sumber bahan baku yang melimpah karena jumlah penduduknya yang besar. "Indonesia darahnya banyak sekali.

in1

Cuma tidak bisa bikin immunoglobulin, jadi kita impor," ujarnya.

Untuk mengatasi masalah tersebut, pemerintah bersama Indonesia Investment Authority (INA) dan SK Plasma membangun pabrik pengolahan plasma darah di Karawang.

Nilai investasinya mencapai sekitar Rp3 triliun hingga Rp4 triliun.

Pabrik tersebut ditargetkan mulai beroperasi pada awal 2027 setelah memperoleh persetujuan regulator. Kehadiran fasilitas itu diharapkan dapat mengurangi ketergantungan impor produk plasma darah sekaligus memperkuat ketahanan kesehatan nasional.

Budi mengaku memiliki pengalaman pribadi yang membuatnya semakin yakin pentingnya membangun industri plasma darah dalam negeri.

Salah satu anggota keluarganya meninggal dunia saat pandemi Covid-19 karena kesulitan memperoleh akses terhadap immunoglobulin yang masih harus diimpor.

"Tante saya meninggal pas Covid karena tidak bisa dapat akses. Ada obat namanya gamaras, nama generiknya immunoglobulin.

Ini produksi dari plasma darah," ungkapnya.

>>> Spesifikasi Redmi Note 17 dan Note 17 Pro Max Bocor: Baterai Besar hingga Kamera 200 MP

Pengembangan industri bahan baku obat dan plasma darah merupakan bagian dari strategi pemerintah untuk mengurangi ketergantungan impor sekaligus memastikan belanja kesehatan nasional dapat menciptakan lapangan kerja dan mendorong pertumbuhan ekonomi di dalam negeri.