Anak-anak masih dalam tahap belajar memahami emosi dan cara berkomunikasi. Namun, saat lelah, sebagian orang tua kerap meluapkan emosi melalui bentakan.

Bentakan bukan sekadar membuat anak takut atau sedih sesaat. Jika terjadi berulang, perilaku ini bisa menjadi kekerasan emosional yang memengaruhi kesehatan mental anak.

in1

>>> Iran dan Oman Berembuk Bahas Tarif Kapal di Selat Hormuz

Akibatnya, anak bisa belajar bahwa suara keras dan kemarahan adalah cara menyelesaikan masalah. Memahami dampak bentakan penting agar orang tua menerapkan pola asuh lebih positif.

Dampak Bentakan pada Psikologis Anak

Berikut enam dampak bentakan pada psikologis anak yang perlu diketahui orang tua, dikutip dari Better Help.

1. Meningkatkan stres dan kecemasan anak.

Saat sering dibentak, tubuh anak merespons dengan meningkatkan hormon stres. Anak mungkin selalu waspada karena takut salah atau dimarahi lagi.

Dalam jangka pendek, kondisi ini membuat anak mudah cemas dan sulit merasa aman di rumah.

2. Memicu perilaku agresif.

Anak belajar dari contoh orang tua.

Jika sering melihat komunikasi dengan suara keras, mereka menganggapnya wajar dan bisa meniru dengan membentak, mudah marah, atau agresif pada teman dan keluarga.

3. Membuat anak menarik diri.

Tidak semua anak merespons dengan melawan; sebagian justru diam, menjauh, atau menutup diri. Anak yang sering dimarahi merasa pendapatnya tidak dihargai.

>>> Semua Motor Bensin Honda di Indonesia Kompatibel dengan Bioetanol E10

Jika terus-menerus, anak mungkin lebih nyaman mencari dukungan dari teman atau guru daripada orang tuanya.

4. Menurunkan rasa percaya diri.

Anak bisa merasa dirinya tidak cukup baik, selalu salah, atau tidak mampu memenuhi harapan orang tua.