Pemerintah menargetkan penerapan mandatori biodiesel B50 dimulai pada 1 Juli 2026.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan hasil pengujian teknis menunjukkan kualitas B50 lebih baik dibandingkan B40.

in1

>>> Jangan Panik! Ini Alasan Pesawat Belum Bisa Mendarat

Bahlil mengatakan berbagai tahapan uji coba telah dilakukan oleh tim Kementerian ESDM yang dipimpin Direktur Jenderal EBTKE Prof. Eniya.

Hasilnya dinilai sangat menggembirakan.

Salah satu temuan positif adalah kadar air pada B50 lebih rendah dari B40. Hal ini membuat performa dan stabilitas bahan bakar lebih baik.

Uji Coba di Berbagai Kendaraan

Pengujian B50 dilakukan pada berbagai jenis kendaraan dan peralatan operasional. Mulai dari kendaraan angkutan, alat berat pertambangan, ekskavator, kapal, kereta api, hingga mesin pertanian.

Pemerintah optimistis peluncuran B50 pada semester II 2026 berjalan sesuai rencana. Kebijakan ini diharapkan mampu menekan impor solar secara signifikan.

Dari sisi ekonomi, implementasi B50 berpotensi menciptakan nilai tambah bagi industri kelapa sawit nasional sebesar Rp24,68 triliun.

>>> UBK Beri Penjelasan Lengkap soal Mahasiswa Terima Rp20 Juta Usai Bertemu Wapres

Program ini juga diperkirakan menyerap tenaga kerja lebih dari 2,2 juta orang.

Dari aspek lingkungan, penggunaan biodiesel B50 diperkirakan mampu menekan emisi gas rumah kaca hingga 46,72 juta ton setara CO2.

Sementara penghematan devisa dari berkurangnya impor bahan bakar fosil mencapai Rp157,28 triliun.

Pada 2026, pemerintah menerapkan skema transisi dengan B40 di semester pertama dan B50 di semester kedua. Total alokasi biodiesel tahun ini diperkirakan sekitar 17,60 juta kiloliter.

Hingga 13 April 2026, realisasi penyaluran biodiesel mencapai 3,90 juta kL atau 24,9 persen dari alokasi tahunan.

>>> Big Tigger Ditangkap atas Tuduhan KDRT dan Kekerasan pada Anak

Program ini didukung 26 Badan Usaha Bahan Bakar Nabati dan 32 Badan Usaha BBM di berbagai wilayah Indonesia.