Piala Dunia 2026 yang digelar di Amerika Utara sejauh ini menyajikan pertandingan dengan produktivitas gol tinggi. Hingga 40 pertandingan pertama, tercatat 121 gol dari 88 pemain berbeda.

Rata-rata gol per laga mencapai 3 gol, meningkat hampir 25 persen dibanding edisi Qatar 2022. Hanya tiga pertandingan yang berakhir tanpa gol.

in1

>>> Netanyahu Cemas Trump Gerus Kebebasan Agresi Israel di Lebanon

Faktor Lonjakan Gol

Salah satu penyebab utama adalah teknologi bola resmi FIFA. Bola dengan jahitan lebih dalam dinilai melesat terlalu cepat saat ditendang.

Pelatih Austria, Ralf Rangnick, menyebut bola itu secepat peluru meriam dan sangat sulit diantisipasi kiper. Lapisan luar bola juga memberikan cengkeraman ekstra untuk dribel dan tendangan akurat.

Faktor lain adalah aturan stoppage time yang lebih ketat dan jeda hidrasi baru. Waktu pertandingan lebih panjang, memberi peluang lebih banyak bagi penyerang.

Ekspansi menjadi 48 tim juga memperlebar kesenjangan kualitas. Tim raksasa bisa memanen gol di fase grup melawan lawan yang lebih lemah.

>>> Will Arnett Marah pada Jason Bateman karena Pertanyaan Soal Buang Air Besar di Depan Amy Poehler

Perlindungan ketat terhadap penyerang turut berperan. Pelatih Kolombia, Nestor Lorenzo, menilai striker modern lebih diuntungkan oleh ketegasan wasit dibanding 20-30 tahun lalu.

Dominasi Pemain Liga Inggris

Lebih dari setengah gol di turnamen ini lahir dari pemain di tiga liga top Eropa: Inggris (30 gol), Jerman (16 gol), dan Spanyol (11 gol).

MLS menyumbang delapan gol, Ligue 1 tujuh gol, dan Serie A lima gol. Real Madrid, Liverpool, dan Inter Miami menjadi klub penyumbang gol terbanyak.

Inter Miami melesat berkat Lionel Messi yang sudah mengemas 5 gol hanya dalam dua laga. Piala Dunia 2026 diprediksi akan memecahkan rekor 172 gol Qatar 2022.

>>> Pembantu Chris Brown Bersaksi Diserang Anjing: 'Saya Kira Saya Akan Mati'

Jika dikonversi ke format 64 laga, turnamen ini berada di jalur menghasilkan 194 gol, melampaui rekor edisi sebelumnya.