Ketegangan geopolitik di Timur Tengah mendorong lonjakan harga gas alam cair (LNG) global.

Indonesia pun ikut merasakan dampaknya, meskipun harga LNG dalam negeri masih lebih kompetitif dibandingkan sejumlah negara di Asia Tenggara.

in1

>>> Indomobil Luncurkan QT Series dan Tyranno X di Solo, Skutik Listrik Premium hingga Adventure

Praktisi migas Widhyawan Prawiraatmadja menyatakan bahwa penyesuaian harga energi non-subsidi, termasuk LNG, merupakan konsekuensi yang harus dihadapi seluruh pelaku industri saat harga global bergejolak.

Menurut Widhyawan, harga LNG sangat bergantung pada mekanisme pengadaan, baik melalui kontrak jangka panjang maupun pembelian spot.

Untuk LNG berbasis spot, harga saat ini naik signifikan seiring melonjaknya indeks Japan Korea Marker (JKM), acuan utama harga LNG di Asia Pasifik.

"Kalau mengikuti harga pasar, naik turun harga adalah hal yang biasa dan itu yang dihadapi oleh seluruh pengguna LNG," ujar Widhyawan.

Sepanjang 2026, indeks JKM telah melonjak sekitar 111 persen. Kenaikan ini turut mendorong naiknya Indonesian Crude Price (ICP) yang menjadi salah satu acuan harga energi nasional.

Pada April 2026, ICP tercatat meningkat sekitar 99 persen dibandingkan asumsi awal tahun.

Mantan Gubernur Indonesia untuk OPEC periode 2015-2016 itu menjelaskan bahwa LNG yang dipasarkan melalui kontrak jangka panjang umumnya menggunakan formula berbasis harga minyak atau oil index.

Dalam skema tersebut, harga ditentukan berdasarkan persentase tertentu terhadap harga minyak mentah yang dikenal dengan istilah slope.

"Besaran slope berbeda-beda tergantung kondisi pasar saat kontrak dinegosiasikan. Ketika pasokan melimpah, slope biasanya lebih kecil, dan sebaliknya," jelas pengajar Institut Teknologi Bandung (ITB) tersebut.

Kontrak ekspor LNG Indonesia yang masih berjalan juga menjadi faktor penting dalam menjaga keseimbangan pasokan dan harga domestik.