Relaksasi RKAB berpeluang menghilangkan bottleneck produksi yang menahan volume produksi emiten besar seperti AADI dan ITMG. Sementara itu, kenaikan harga DMO bakal langsung memperbaiki margin di pasar domestik.

"With coal export prices (ICE Newcastle) remaining solid at US$ 120-US$ 130 per ton, 2026 could potentially be the strongest year for the coal sector if both catalysts are realized," terang Abida, Senin (22/6).

in1

>>> Aston Villa Gelar Tur Pramusim di Jakarta Agustus 2026

Abida menyebut PTBA berpeluang menjadi penerima manfaat terbesar secara proporsional karena dominasi penjualan mereka ke PLN dan industri dalam negeri.

Emiten ini memiliki porsi DMO tertinggi.

Berdasarkan catatan, PTBA menjual 5,19 juta ton batubara di pasar domestik dari total penjualan 10,28 juta ton pada kuartal I-2026.

Selain itu, ADRO dan AADI dengan volume masif juga berpeluang merasakan dampak material.

Abida menyarankan emiten memperkuat kontrak jangka panjang dengan PLN untuk optimalisasi DMO. Emiten juga perlu meningkatkan kapasitas logistik domestik dan memastikan kualitas batubara sesuai spesifikasi pembangkit listrik.

Muhammad Wafi juga memperkirakan PTBA menjadi penerima manfaat utama karena mandatnya sebagai BUMN energi. Saham ADRO dan ITMG turut berpotensi diuntungkan meski proporsi DMO mereka lebih kecil.

"Kunci optimalisasi DMO adalah ketersediaan perencanaan tambang yang bisa memenuhi kuota DMO tepat waktu dan koordinasi logistik dengan PLN," tutur Wafi.

Wafi menyarankan investor mencermati saham PTBA dengan target harga wajar Rp 3.200 per saham.

Saham ADRO dan ITMG juga dapat diperhatikan dengan target masing-masing Rp 3.300 per saham dan Rp 27.500 per saham.

Dipta Daniswara sepakat bahwa PTBA berpotensi menerima manfaat paling besar jika harga DMO naik. Sebagian besar hasil produksi emiten tersebut diserap oleh pasar domestik, khususnya PLN.

Emiten BUMI juga diuntungkan karena komposisi penjualannya cukup netral, yakni sekitar 60% ekspor dan 40% domestik.

Sementara emiten BYAN dan ITMG diperkirakan merasakan dampak terbatas karena mayoritas penjualannya ditujukan untuk pasar ekspor.

>>> IHSG Melemah 0,98 Persen ke 6.116,69 pada Penutupan Perdagangan Senin

Dipta menyarankan buy on weakness saham PTBA untuk trading jangka pendek di kisaran level Rp 2.460--Rp 2.560 per saham dengan target harga Rp 2.620 per saham dan Rp 2.710 per saham, serta stop loss di level Rp 2.360 per saham.