Badan Gizi Nasional mengumumkan pengurangan anggaran program Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk tahun 2026. Pagu awal sebesar Rp268 triliun dikurangi menjadi Rp228,3 triliun.

Langkah ini merupakan bagian dari upaya refocusing atau penajaman anggaran. Badan Gizi Nasional mempertimbangkan indikator seperti ketahanan gizi, kondisi sosial ekonomi, dan akses masyarakat terhadap kebutuhan gizi.

in1

>>> Inter Miami Bayar Kompensasi ke LA Galaxy demi Casemiro

Analis Panin Sekuritas Pondok Indah, Elandry Pratama, menilai pemangkasan ini berpotensi menurunkan ekspektasi tambahan permintaan di sektor consumer dan poultry.

Namun, dampaknya lebih ke sentimen dan proyeksi pertumbuhan, bukan fundamental emiten.

"Pasar kemungkinan akan menyesuaikan ulang asumsi atas potensi kontribusi MBG terhadap penjualan emiten yang sebelumnya dianggap sebagai beneficiary utama," kata Elandry kepada Kontan, Senin (22/6/2026).

Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas, Alrich Paskalis Tambolang, menambahkan dampak refocusing ini cenderung moderat. Meski anggaran turun, nominalnya masih besar dan menunjukkan komitmen pemerintah.

Pasar selama ini lebih banyak memperdagangkan ekspektasi ketimbang kontribusi riil MBG terhadap laba emiten.

"Penyesuaian anggaran berpotensi menurunkan ekspektasi pertumbuhan yang terlalu agresif, tetapi belum tentu mengubah prospek fundamental secara signifikan," ujar Alrich.

Di sektor poultry, program MBG tetap menjadi sumber permintaan baru untuk protein hewani seperti ayam dan telur.

Namun, dengan anggaran yang lebih selektif, potensi peningkatan volume tidak sebesar perkiraan awal.

Sementara di sektor konsumer, dampaknya lebih terbatas karena kinerja emiten lebih ditentukan oleh daya beli masyarakat, inflasi pangan, dan pertumbuhan konsumsi rumah tangga.

Equity Research Analyst Kiwoom Sekuritas Indonesia, Abdul Azis Setyo Wibowo, mengatakan anggaran MBG berpotensi mengurangi ekspektasi tambahan permintaan pangan, khususnya ayam dan telur.