Rencana Kenaikan HET Minyakita Tetap Bergulir, Pemerintah Masih Cari Formulasi Harga
Lebih lanjut, ia menyoroti bahwa masalah ketersediaan barang di lapangan sering kali memaksa konsumen mengubah pola konsumsi mereka secara mendadak.
"Pada akhirnya masyarakat jadi terpaksa beralih ke premium karena minyakita langka dan harga tak jauh beda," tambahnya.
Skema DMO Kurang Seksi di Mata Pengusaha Sawit
Polemik Minyakita sejatinya bukan sekadar urusan label harga di rak pedagang.
>>> BEI Sambut Empat Emiten Baru pada Awal Juli 2026
Eliza membedah akar persoalan yang bermuara pada skema Domestic Market Obligation (DMO).
Kebijakan yang mewajibkan produsen memasok sebagian produksinya ke pasar dalam negeri ini dianggap kurang menggiurkan secara bisnis.
Bagi pelaku industri kelapa sawit skala besar, margin keuntungan dari pemenuhan kuota DMO sangat kecil jika disandingkan dengan keran keuntungan dari pasar ekspor global.
Hal ini memicu keengganan pengusaha untuk memprioritaskan pasokan domestik.
"Ini strategi perusahaan minyak sawit karena DMO minyak goreng ini marginnya tipis sekali dibandingkan ekspor, jadi ini disinsentif bagi mereka.
Karena prinsipnya swasta ya memaksimalkan profit.
Ekspor lebih menguntungkan jadinya untuk pemenuhan dalam negeri dinomor sekiankan," paparnya menyoroti motif ekonomi di balik kelangkaan Minyakita.
Struktur industri pengolahan Crude Palm Oil (CPO) nasional yang sangat didominasi oleh korporasi swasta menjadi tantangan tersendiri bagi ketahanan pangan.
Niat baik pemerintah untuk membanjiri pasar dengan minyak goreng murah kerap kali harus berbenturan keras dengan orientasi bisnis swasta yang secara lumrah selalu mengejar profitabilitas maksimal melalui jalur ekspor.
"Besarnya penguasaan swasta dalam pengolahan CPO dan pemerintah belum punya hilirisasi kelapa sawit yang memadai jadinya keinginan pemerintah menyediakan minyak murah bertabrakan dengan keinginan swasta yang memaksimalkan profit dengan mengekspor," tegas Peneliti CORE tersebut.
Sebagai langkah konkret dan solusi jangka panjang untuk menyeimbangkan hegemoni pasar, Eliza mendesak pemerintah untuk segera merevitalisasi dan memperkuat fungsi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di sektor perkebunan.
PT Perkebunan Nusantara (PTPN) dinilai harus didorong agar mampu tampil sebagai stabilisator dan penjamin ketersediaan minyak goreng bagi rakyat.
>>> Timnas Mobile Legends Indonesia Lolos ke Asian Games 2026
"Perlunya perkuat peranan BUMN pengolahan minyak kelapa sawit seperti mendukung target PTPN naikkan produksi minyak goreng menjadi 1,8 juta ton/tahun," pungkasnya.
Update Terbaru
Chelsea Pertimbangkan Jual Malo Gusto Usai Cucurella ke Real Madrid
Senin / 22-06-2026, 15:17 WIB
6 Selebriti yang Kompak Hadiri Wisuda Anak Bersama Mantan Pasangan
Senin / 22-06-2026, 15:17 WIB
Tokocrypto Resmi Selesaikan Migrasi ke Ekosistem ICEX Group
Senin / 22-06-2026, 15:17 WIB
Charity Dingle Meninggalkan Desa Emmerdale Setelah Hidupnya Hancur
Senin / 22-06-2026, 15:15 WIB
Anak Bebek Mati Ditemukan di Reflecting Pool yang 'Diperbaiki' Trump
Senin / 22-06-2026, 15:15 WIB
Jenazah Oliver Tree Dipulangkan ke AS, Keluarga Wujudkan Wasiat Terakhir
Senin / 22-06-2026, 15:14 WIB
Belgia Ditahan Imbang Iran Tanpa Gol di Piala Dunia 2026
Senin / 22-06-2026, 15:14 WIB
Jadwal Puasa Tasua dan Asyura 2026 Berbeda, Ini Versi Pemerintah, Muhammadiyah, dan NU
Senin / 22-06-2026, 15:14 WIB
TVRI Siarkan Live Streaming Piala Dunia 2026 Gratis Melalui TV Digital
Senin / 22-06-2026, 15:14 WIB
Harga Bitcoin Tembus 64.000 Dolar AS Didukung Akumulasi Institusi
Senin / 22-06-2026, 15:14 WIB
Penyidikan Tiga Tersangka Kasus Ijazah Jokowi Masih Berlanjut
Senin / 22-06-2026, 15:12 WIB
Bioskop Trans TV Menayangkan Film Aksi Taken Malam Ini
Senin / 22-06-2026, 15:12 WIB
Revisi UU P2SK Dinilai Berpotensi Jadi Celah Pencucian Uang Lewat Patriot Bond
Senin / 22-06-2026, 15:12 WIB
Kemenkes Bantah Markup Anggaran Alkes RSUD Krui, Beberkan Rincian Rp56,7 M
Senin / 22-06-2026, 15:08 WIB






