Rencana penyesuaian Harga Eceran Tertinggi (HET) untuk produk minyak goreng kemasan rakyat, Minyakita, tampaknya masih akan terus bergulir.

Peneliti dari Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Eliza Mardian, memproyeksikan bahwa pemerintah kemungkinan besar tetap akan mengerek naik harga batas atas produk tersebut.

in1

>>> Daihatsu Respons Penutupan Sebelas Outlet Dealer Milik Asco Automotive

Pandangan ini bertolak belakang dengan sejumlah sinyalemen dan pernyataan dari pihak eksekutif sebelumnya yang mengesankan pembatalan kebijakan tersebut.

Menurut analisis Eliza, langkah pemerintah saat ini sebenarnya adalah fase penundaan strategis.

Para pemangku kebijakan dinilai sedang meracik ulang formulasi harga yang paling rasional dan bisa diterima oleh berbagai pihak sebelum palu keputusan benar-benar diketuk.

"Sebetulnya bukan batal, tapi belum dilakukan karena Kementan dan Bapanas masih nyari formulasi harga yang terbaik," ungkap Eliza saat memberikan keterangannya kepada awak media pada Rabu (18/6/2026).

Ancaman Menyempitnya Jarak Harga dengan Minyak Premium

Dalam menyusun formulasi HET yang baru, Eliza memberikan peringatan keras agar pemerintah ekstra berhati-hati.

Kenaikan harga yang dieksekusi tanpa perhitungan matang justru berisiko menjadi bumerang bagi program Minyakita itu sendiri.

Pasalnya, selisih harga antara minyak goreng bersubsidi ini dengan minyak goreng kemasan premium di pasaran kini semakin tipis.

Jika HET dinaikkan secara sepihak tanpa membereskan kendala struktural di rantai pasok, daya tarik Minyakita di mata konsumen kelas menengah ke bawah bisa luntur.

"Karena gap harga minyakita dengan premium makin mengecil.

Jadi memang perlu berhati-hati dalam menentukan formulasi harga karena kalau terus menerus menaikkan HET tanpa ada pembenahan, akar persoalannya akan semakin kecil gap Minyakita dan premium," jelasnya.