Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menyatakan bahwa Musyawarah Nasional (Munas) dan Konferensi Besar (Konbes) NU 2026 digelar untuk membahas persiapan menuju muktamar.

Ketua Steering Committee (SC) Munas dan Konbes NU 2026, K.

in1

>>> Penambang Pasir Lumajang Terbakar Material Panas Sisa Erupsi Semeru

H. Ahmad Said Asrori, mengatakan forum ini merupakan forum terakhir pada periode kepengurusan PBNU saat ini sebelum memasuki persiapan muktamar.

“Munas dan Konbes ini pembahasannya adalah menyangkut masalah-masalah dunia, menyangkut waqi'iyah, qanuniyah, dan maudlu'iyyah.

Sekaligus nanti membahas tentang organisasi, kemudian komisi rekomendasi, program, dan lain-lain yang berhubungan dengan kehidupan berbangsa, bernegara, dan beragama di Indonesia,” katanya di Kediri, Sabtu.

Ia menjelaskan forum tersebut membahas berbagai persoalan strategis, mulai dari isu keagamaan, organisasi, hingga kebangsaan.

Acara digelar di Pondok Pesantren Al Falah, Desa Ploso, Kecamatan Mojo, Kabupaten Kediri.

Ahmad Said berharap kegiatan berjalan lancar dan menghasilkan keputusan bermanfaat bagi warga NU dan masyarakat luas.

“Harapannya Munas Konbes ini berjalan semuanya dengan baik, dengan gembira, bahagia, dan tentu yang kita harapkan adalah menghasilkan keputusan-keputusan yang bermanfaat khususnya bagi warga NU, warga pondok pesantren, warga Indonesia semuanya,” ujarnya.

Kedudukan Munas dan Konbes dalam Sistem Permusyawaratan NU

Sekretaris SC Munas dan Konbes NU 2026, K.

H. Amin Said Husni, menjelaskan bahwa Munas dan Konbes merupakan permusyawaratan berbeda namun hampir selalu dilaksanakan secara paralel.

Kedua forum tersebut berada satu tingkat di bawah muktamar sebagai forum tertinggi di lingkungan NU.

>>> Ulasan Novel Katri: Kisah Perempuan Bertahan di Tengah Tragedi 1965

Munas diikuti oleh utusan Syuriah Pengurus Wilayah NU (PWNU) se-Indonesia, sedangkan Konbes diikuti utusan Tanfidziyah PWNU dari 38 provinsi.