Para masyayikh Nahdlatul Ulama menggelar Ramah Tamah Masyayikh di Pondok Pesantren Al-Falah Ploso, Kabupaten Kediri, Jawa Timur, Sabtu (15/2/2026).

Pertemuan itu digelar menjelang Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar (Konbes) Nahdlatul Ulama 2026.

in1

>>> KABAR DUKA! Tri Hari Mastuti Alias Eyang Ratih Spiritual Asal Banyuwangi Meninggal Dunia pada 18 Juni 2026

Dalam pertemuan tersebut, para masyayikh yang terdiri dari alim ulama dan pengasuh pondok pesantren meminta agar Munas dan Konbes PBNU tidak membahas atau menetapkan materi yang berpotensi mengurangi, menggeser, atau menjauhkan hubungan historis, kultural, dan spiritual antara NU dengan para masyayikh dan pondok pesantren.

"Para masyayikh berharap dan memohon agar Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama diselenggarakan dengan penuh kebijaksanaan, kehati-hatian, dan tanggung jawab," demikian pernyataan bersama yang diterima di Jakarta, Sabtu.

Masyayikh adalah sebutan untuk para guru dengan karakteristik alim, alammah, dan dituakan. Sejumlah masyayikh yang hadir antara lain KH Nurul Huda Jazuli, KH Anwar Manshur, KH A.

Kafabihi Mahrus, KH Ma'ruf Amin, KH Said Aqil Siroj, KH Muhammad Khalil As'ad, KH Abdullah Ubab Maimoen, KH Ali Akbar Marbun, KH Ubaidillah Shodaqoh, KH Ali Kholil, KH Asep Saifuddin Chalim, KH Ah.

Syatibi Hambali, dan KH Mas'ud Masduqi.

Para masyayikh menegaskan pentingnya menjaga khittah, marwah, persatuan, dan keberlangsungan peran NU sebagai jam'iyah diniyah ijtima'iyah yang lahir dan berkembang dari lingkungan pesantren.

>>> Keliling Jakarta Tanpa Takut Sinar UV, Menemukan Cerita di Setiap Sudut Kota

Penolakan terhadap Usulan Perubahan AHWA dan Rangkap Jabatan

Terkait Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA), para masyayikh meminta agar mekanisme dan persyaratan pemilihan anggota AHWA tetap mempertahankan karakter forum keulamaan yang bertumpu pada kedalaman ilmu, keteladanan akhlak, keluasan pengabdian, dan pengakuan keulamaan di lingkungan NU.