Jakarta selalu terasa terburu-buru.

Kita berlari mengejar KRL, berpindah halte TransJakarta, berjalan cepat di trotoar, lalu masuk lagi ke gedung berpendingin udara.

in1

>>> Rano Bersyukur Jakarta Masuk 53 Kota Terbaik Dunia, Kalahkan Washington DC

Hari berganti dengan pola yang hampir sama. Anehnya, di tengah mobilitas itu, ada satu hal yang hampir tak pernah benar-benar saya pikirkan: sinar matahari.

Padahal, tinggal di kota tropis seperti Jakarta berarti kita bertemu dengannya hampir setiap hari.

Kesadaran itu datang justru ketika saya mengikuti The Everyday UV Journey: Discovering Jakarta's Hidden Gems Under The Sun, sebuah media trip yang diselenggarakan UNIQLO Indonesia bersama komunitas SANA Kenal Kota.

Awalnya saya mengira ini hanya walking tour biasa.

Ternyata, perjalanan itu membuat saya bukan hanya menemukan sudut Jakarta yang belum pernah saya lihat, tetapi juga menyadari bahwa paparan UV ternyata jauh lebih dekat daripada yang saya bayangkan.

Jakarta dari Sudut yang Berbeda

Pagi itu kami berkumpul di Sarinah. Sebelum berjalan kaki, perjalanan dimulai menggunakan Open Top Bus menuju Kota Tua.

Duduk di lantai atas bus tanpa atap membuat Jakarta terasa berbeda.

Gedung-gedung tua, jalan protokol, hingga deretan pepohonan yang biasanya hanya saya lewati dari balik kaca kendaraan, kini terlihat lebih hidup.

Namun ada satu hal yang juga terasa lebih nyata. Matahari.

>>> CIMB Niaga Targetkan Perluasan Pasar Ritel Melalui OCTO Land

Jam masih menunjukkan pagi, tetapi hangatnya sinar matahari sudah mulai menyentuh wajah. Bukan panas yang menyengat, melainkan paparan yang perlahan hadir tanpa disadari.

Menurut World Health Organization (WHO), wilayah yang berada di sekitar garis khatulistiwa seperti Indonesia menerima paparan UV yang relatif tinggi sepanjang tahun.