Komunitas seni Betawi Oplet Robet terus berinovasi untuk menghadirkan pertunjukan budaya yang lebih modern. Tujuannya menarik minat masyarakat tanpa meninggalkan akar tradisi yang menjadi identitas mereka.

Pendiri Oplet Robet, Ramdhani Qubil AJ atau Bang Qubil, menyatakan komunitasnya ingin meningkatkan kualitas pertunjukan seni Betawi. Pengemasan yang lebih kreatif dan mengikuti perkembangan zaman menjadi kunci.

in1

>>> Pemprov DKI Semarakkan Bulan Bung Karno dengan Festival dan Pameran UMKM

"Kita kepengin kesenian Betawi naik grade dengan tata cahaya, artistik, dan sebagainya," kata Bang Qubil usai pertunjukan Lenong Kampung Te-Ko di Galeri Indonesia Kaya, Jakarta, Sabtu.

Menurut dia, kesenian tradisional harus terus berkembang agar tetap relevan bagi generasi masa kini. Namun, inovasi tidak boleh menghilangkan unsur budaya yang menjadi fondasi.

"Kesenian itu bukan kitab suci, harus berkembang, harus berinovasi. Tapi tetap akarnya kita nggak bisa buang, akar budaya Betawinya tetap," ujarnya.

Bang Qubil mencontohkan musik Gambang Kromong yang menjadi bagian penting dalam pertunjukan Betawi. Alat musik itu harus tetap dipertahankan meski dikemas dengan pendekatan modern.

Oplet Robet berupaya menunjukkan bahwa budaya Betawi tidak identik dengan sesuatu yang kuno. Mereka ingin membuktikan bahwa budaya Betawi bisa beradaptasi dengan teknologi dan kebutuhan penonton saat ini.

>>> BNPB Percepat Penanganan Empat Kubangan di Nokilalaki Sigi Akibat Gempa

"Mimpi Oplet Robet bagaimana bikin pertunjukan Betawi itu kalau bisa lima dimensi. Biar orang juga tahu bahwa Betawi bisa berkembang dan mengikuti perkembangan zaman," katanya.

Sebagai bagian dari upaya tersebut, Oplet Robet berencana menggelar pentas tunggal pada Oktober mendatang.

Pertunjukan akan digelar di Gedung Kesenian Jakarta dengan konsep produksi yang lebih matang dari sisi artistik dan tata panggung.

Bang Qubil berharap inovasi ini dapat mendorong masyarakat, terutama generasi muda, untuk semakin mengenal dan mengapresiasi budaya Betawi.

>>> Peringati Hari Susu Sedunia, Susu Mbok Darmi Bagikan 1.000 Cup Susu Gratis di Bogor

"Jangan dibilang Betawi itu jadul. Betawi juga bisa berkembang, bisa mengikuti perkembangan zaman dengan tidak melupakan akar budayanya," ujarnya.