Para kiai sepuh menginginkan agar Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama (NU) yang digelar di Pesantren Al Falah Kediri, Jawa Timur, berlangsung dengan penuh kebijaksanaan, kehati-hatian, dan tanggung jawab.

Hal itu disampaikan Pengasuh Pondok Pesantren Al Falah, Abdurrohman Al-Kautsar atau Gus Kautsar di Kediri, Sabtu.

in1

>>> Pelaku Usaha Kuliner Banyumas Tingkatkan Pemahaman Keamanan Pangan

Gus Kautsar mengatakan, ada beberapa permintaan dari para masyayikh untuk para peserta kegiatan tersebut.

Permintaan itu antara lain tidak membahas atau menetapkan materi yang berpotensi mengurangi, menggeser, atau menjauhkan hubungan historis, kultural, dan spiritual antara NU sebagai jamiyah dengan para masyayikh pemangku pondok pesantren muktabar.

Para masyayikh juga meminta agar pengaturan syarat dan mekanisme pemilihan ahlul halli wal aqdi (Ahwa) tetap menjaga karakter sebagai forum keulamaan yang bertumpu pada kedalaman keilmuan, keteladanan, akhlak, keluasan pengabdian, dan pengakuan keulamaan di lingkungan NU.

Menurut Gus Kautsar, para kiai sepuh berpandangan bahwa pendekatan yang terlalu menitikberatkan pada jabatan struktural maupun keterwakilan kewilayahan berpotensi mengubah majelis Ahwa dari forum keulamaan menjadi forum representasi struktural.

Hal itu dapat mempersempit ruang khidmat para ulama pesantren yang memiliki otoritas keilmuan dan kewibawaan keagamaan, namun tidak berada dalam struktur organisasi atau tidak terakomodasi dalam skema keterwakilan wilayah.

Dalam jangka panjang, langkah tersebut akan melemahkan, menjauhkan, bahkan melepaskan ikatan historis antara NU dengan pesantren dan para masyayikh.

>>> Cetak Dua Gol di Piala Dunia, Saibari: Ini Momen Terbaik Karier Saya

Selain itu, para masyayikh meminta agar aturan yang sudah ada ditetapkan, termasuk larangan pimpinan tertinggi atau ketua umum merangkap jabatan sebagai eksekutif.