Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) saat ini berada dalam fase konsolidasi yang dinilai masih konstruktif.

Pergerakan ini terjadi menjelang keputusan penting dari lembaga indeks global MSCI mengenai status pasar Indonesia.

in1

>>> BPS DIY Awali Sensus Ekonomi dengan Gerebek Lorong di Malioboro

Pengamat Pasar Modal sekaligus Co-Founder Pasardana, Hans Kwee, mengungkapkan bahwa volatilitas pada awal dan pertengahan perdagangan dipicu aksi ambil untung.

Profit taking muncul setelah IHSG mengalami reli kuat beberapa hari sebelumnya.

MSCI Soroti Tantangan Pasar Valas Indonesia

MSCI menyoroti tantangan pasar valuta asing Indonesia yang masih menghadapi keterbatasan. Hambatan tersebut meliputi ketiadaan pasar offshore yang efisien dan pembatasan pada pasar onshore.

Meski demikian, Hans Kwee menyebut sebagian besar indikator aksesibilitas pasar saham Indonesia yang dinilai MSCI tetap positif. Kondisi ini tidak berubah signifikan dibandingkan periode sebelumnya.

Indonesia dinilai memiliki peluang besar untuk mempertahankan statusnya sebagai emerging market. Keputusan final MSCI dijadwalkan keluar pada 23 Juni 2026.

Faktor eksternal turut memengaruhi pergerakan pasar, di mana bursa global juga berada dalam fase konsolidasi setelah euforia meredanya konflik geopolitik di Timur Tengah.

Investor kini fokus pada dampak pasokan energi, inflasi, dan pertumbuhan ekonomi global.

Tekanan terhadap aset investasi di pasar saham emerging market juga datang dari sikap The Fed yang masih mempertahankan peluang suku bunga acuan.

Sementara dari dalam negeri, Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga acuan menjadi 5,75%, yang ikut menahan laju penguatan IHSG.

>>> BNPB Segera Bangun Huntara untuk Korban Gempa di Sigi, Sulteng

BI bahkan berpotensi melanjutkan kebijakan ketat demi menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.