Tren suku bunga tinggi membuat pelaku pasar cenderung berhati-hati dan memicu potensi migrasi modal ke instrumen pendapatan tetap.

"Namun, fundamental ekonomi Indonesia masih solid dan itu bisa menjadi penopang utama bagi pasar saham," ujar Hans Kwee, Jumat (19/6).

in1

Untuk jangka pendek hingga akhir Juni 2026, Hans Kwee memproyeksikan IHSG akan bergerak dalam rentang 6.200 hingga 6.500.

Pasar membutuhkan waktu untuk mencerna beragam sentimen setelah kenaikan tajam.

Potensi penguatan indeks saham domestik masih terbuka, namun pergerakannya kemungkinan tidak akan agresif dalam waktu dekat.

Investor disarankan melirik saham perbankan seperti BBCA, BMRI, BBRI, dan BBNI sebagai pilihan utama.

Emiten sektor perbankan dinilai memiliki struktur pendanaan kuat dan lebih tahan terhadap efek kenaikan suku bunga.

Selain itu, emiten pertambangan emas juga menarik karena statusnya sebagai aset lindung nilai di tengah ketidakpastian global.

>>> Jakalcer Fest 2026 Digelar untuk Kembalikan Kejayaan Pasar Seni Ancol

Sebaliknya, Hans Kwee mengingatkan bahwa saham properti dan multifinance sangat sensitif terhadap perubahan suku bunga. Tingginya suku bunga acuan berisiko menekan permintaan pembiayaan rumah dan kendaraan bermotor.