Budayawan asal Yogyakarta, Butet Kartaredjasa, menyerahkan 14 lukisan kaca Jalan Salib versi Jawa kepada Paus Leo XIV dalam audiensi umum di Vatikan pada Rabu, 17 Juni 2026.

Penyerahan karya seni bertema pewayangan tersebut menjadi momen sejarah karena untuk pertama kalinya seniman Indonesia dapat menyerahkan karyanya secara langsung kepada seorang Paus.

in1

>>> Migrant Watch Desak Malaysia Usut Tuntas Penganiayaan PMI

Lukisan tersebut menggambarkan kelompok pewayangan Punakawan yang terdiri atas Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong sebagai karakter utama dalam 14 stasi Jalan Salib.

Diplomasi Budaya Indonesia di Vatikan

Inisiasi diplomasi budaya ini telah dirintis oleh KBRI Takhta Suci sejak kedatangan Paus Fransiskus ke Indonesia pada tahun 2025 lalu.

Proses penyerahan dilanjutkan kepada Paus Leo XIV melalui bantuan Sekretaris Negara Kota Vatikan, Kardinal Pietro Parolin, hingga Butet mendapatkan kesempatan audiensi langsung di Lapangan Santo Petrus.

"Lukisan yang digambarkan dengan tokoh-tokoh Punakawan: Semar, Gareng, Petruk dan Bagong tersebut dibuat dengan tujuan untuk mendekatkan sosialisasi nilai-nilai yang lebih dekat dengan masyarakat," kata Butet Kartaredjasa.

Butet menjelaskan bahwa figur-figur pewayangan tersebut dipilih karena memiliki kedekatan emosional dan filosofis yang kuat dengan tradisi masyarakat Jawa sehari-hari.

"Tokoh Punakawan sering ditemui di rumah-rumah masyarakat Jawa dalam bentuk lukisan kaca kecil," tutur Butet.

Penggambaran sosok Yesus dalam karya lukis kaca ini diwujudkan melalui karakter Semar yang dinilai memuat simbol kesucian.

"Yesus-nya saya gambarkan Semar karena Semar itu merupakan titisan Dewa lalu tokohnya bisa diganti-ganti pada setiap frame dan jadilah 14 stasi itu," tambahnya.

Karya tersebut merangkum seluruh visualisasi peristiwa sakral, mulai dari keputusan hukuman mati Yesus hingga momen pemakaman pada stasi ke-14.