Paus Leo secara resmi menyerukan pembatasan ketat terhadap penggunaan kecerdasan buatan (AI) di sektor militer.

Pemimpin tertinggi umat Katolik itu menyoroti risiko besar dari teknologi yang berkembang pesat namun didorong oleh ambisi keuntungan.

>>> Biodata dan Agama Ryamizard Ryacudu, Jejak Karier Eks Menhan yang Wafat pada Usia 76 Tahun

Melalui surat ensiklik pertamanya, Paus Leo menyatakan keprihatinan mendalam atas keterlibatan AI dalam konflik bersenjata saat ini.

Kritik ini muncul di tengah laporan penggunaan teknologi canggih oleh Amerika Serikat untuk menentukan target pengeboman di Iran.

Paus Leo menegaskan bahwa keputusan yang menyangkut nyawa manusia tidak boleh diserahkan sepenuhnya kepada algoritma komputer.

Dalam suratnya kepada 1,4 miliar umat Katolik, ia menekankan bahwa sistem artifisial tidak memiliki kapasitas moral untuk mengambil keputusan mematikan.

Poin Penting dalam Ensiklik

Paus Leo menyoroti beberapa poin krusial terkait penggunaan teknologi di medan perang. Pertama, perlunya kontrol manusia yang sadar dan efektif dalam setiap proses pemilihan target serangan.

Kedua, pentingnya rantai tanggung jawab yang transparan dan dapat diverifikasi secara hukum. Ketiga, jaminan bahwa setiap sistem perang harus memiliki rekam jejak yang bisa ditelusuri kembali.

Keempat, pencegahan pengabaian tanggung jawab moral saat keputusan diambil secara otomatis oleh mesin. Vatikan khawatir akuntabilitas perang tidak boleh direduksi menjadi sekadar kesalahan teknis mesin.

Paus mengingatkan bahwa tanpa transparansi, risiko pelanggaran kemanusiaan akan semakin meningkat drastis.

Ketegangan Diplomatik dengan AS

Penerbitan ensiklik ini dilakukan di tengah memanasnya hubungan antara Vatikan dan Washington.

Sebelumnya, Paus Leo mengkritik kampanye militer AS yang memicu reaksi keras dari Presiden Donald Trump dan pejabat tinggi lainnya.