Selama pelatihan, peserta dipandu memilih produk jual melalui aplikasi Evermos, menerapkan teknik pemasaran digital, dan memperkuat pola pikir wirausaha.

Mereka juga diajak mempraktikkan penggunaan WhatsApp Business sebagai alat memulai bisnis digital, sementara tim ILO memberikan materi literasi keuangan dasar.

Harapan ke Depan

in1

Arip Tirta, President Evermos, menekankan bahwa transformasi digital bermakna ketika menjangkau kelompok yang paling jauh dari akses informasi.

"Lewat Evermos, penyandang disabilitas maupun pekerja migran yang kembali ke kampung halaman bisa memulai usaha hanya dari ponsel, tanpa modal besar — itulah pemberdayaan yang inklusif," katanya.

Djauhari Sitorus, Manajer Proyek Promise II Impact, menyatakan bahwa penutupan rangkaian kegiatan bukan akhir, melainkan awal langkah peserta sebagai pelaku usaha digital.

Ia menambahkan bahwa pengalaman tiga tahun menunjukkan kelompok rentan mampu menciptakan peluang ekonomi jika mendapat akses keterampilan, teknologi, dan pendampingan yang tepat.

Evermos dan ILO berharap kontribusi ini dapat mendorong kelompok rentan berperan dalam pertumbuhan ekonomi Indonesia sebagai wirausahawan digital.

>>> Baznas RI dan DPR Sinergi Bentuk UPZ untuk Perkuat Ekosistem Zakat

Kolaborasi ini diharapkan menjadi model pemberdayaan inklusif yang dapat direplikasi di lebih banyak daerah.