"Menurut kualitas beras di penggilingan, maka beras premium naik 0,56% secara month-to-month dan naik 12,81% secara year-on-year.

Sementara untuk beras medium naik 0,79% secara month-to-month atau naik 6,57% secara year-on-year," kata Pudji.

in1

Tren kenaikan ini menjalar hingga ke tingkat pedagang grosir dan eceran.

BPS mencatat harga grosir naik menjadi Rp14.574 per kilogram pada Mei 2026, sedangkan harga eceran menyentuh rata-rata Rp15.358 per kilogram.

>>> 6 Menu Restoran yang Kurang Worth It untuk Dipesan

Beras menjadi salah satu pemicu inflasi terbesar pada Mei 2026, bersama cabai merah, minyak goreng, bawang merah, dan tomat.

Tanggapan Petani dan Pengamat

Ketua Umum Serikat Petani Indonesia (SPI) Henry Saragih menilai lonjakan harga ini janggal karena terjadi saat pemerintah mengklaim stok nasional surplus.

"Menurut kami, sekarang ini memang terjadi sebuah fenomena yang aneh ya, di tengah pemerintah menyampaikan bahwasannya terhadap surplus beras, tapi harga beras mahal, naik dan kenaikannya ini sangat signifikan," kata Henry.

SPI tidak keberatan terhadap rencana Bulog meluncurkan Beraskita Premium, namun mendesak pemerintah mencari akar penyebab utama kenaikan harga.

Henry menduga lonjakan harga berkaitan dengan penguasaan pasar oleh korporasi swasta, terutama pada segmen premium. Bulog disarankan memperluas jaringan kemitraan hingga ke koperasi lokal.

Center of Reform on Economics (Core) Indonesia berpendapat bahwa program Beraskita Premium lebih cocok sebagai alat stabilitas pasar, bukan jaring pengaman sosial langsung bagi warga rentan.

Pengamat Pertanian Core Indonesia Eliza Mardian menyebut konsumen beras premium umumnya memiliki daya beli lebih kuat. Efektivitas program akan lebih terasa dalam mengendalikan ekspektasi inflasi kelas menengah.

Analisis Core menunjukkan kenaikan harga beras premium dipicu oleh lonjakan biaya produksi akibat belum masuknya panen raya gadu.