Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS kembali tertekan pada perdagangan Kamis (18/6/2026).

Mata uang Garuda dibuka melemah hingga menyentuh level Rp17.866 per dolar AS pada pukul 09.06 WIB, atau merosot 0,59% sebesar 104 poin.

in1

>>> 3 Drama Korea Favorit Penonton Lokal di Korea Selatan

Sebelumnya pada perdagangan Rabu (17/6/2026), rupiah ditutup melemah 0,21% atau turun 37 poin ke posisi Rp17.762 per dolar AS.

Indeks dolar AS (DXY) terpantau stagnan pada level 99,53.

Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi menjelaskan bahwa pasar keuangan global dipengaruhi sejumlah sentimen utama.

Dari aspek global, pelaku pasar merespons positif kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran yang memungkinkan Iran melanjutkan ekspor minyak serta memperpanjang gencatan senjata.

"Kesepakatan tersebut mencakup ketentuan yang memungkinkan Iran untuk melanjutkan ekspor minyak dan memperpanjang gencatan senjata," kata Ibrahim, Rabu (17/6/2026).

Perjanjian itu diumumkan pada Selasa waktu setempat, di mana Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa kesepakatan ini akan mengesampingkan pengembangan senjata nuklir oleh Teheran.

Kendati ketegangan geopolitik mereda, fokus pasar beralih pada kebijakan moneter Federal Reserve.

Dalam rapat FOMC yang berakhir Rabu (17/6/2026), bank sentral AS memutuskan mempertahankan suku bunga acuan pada rentang 3,50% hingga 3,75%.

"Pasar sangat sensitif terhadap sinyal apa pun tentang apakah para pembuat kebijakan masih melihat ruang untuk pelonggaran di akhir tahun ini," ujar Ibrahim.

Sentimen lain yang menjadi perhatian besar adalah Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG BI) pada 17-18 Juni 2026.

Ibrahim menilai RDG ini sangat krusial mengingat pekan lalu BI secara mengejutkan telah menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 5,50%.