Rupiah Melemah ke Rp17.804 per Dolar AS Akibat Sentimen Global
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) di pasar spot ditutup melemah 0,06 persen ke level Rp17.804 per dolar AS pada Jumat (19/6/2026).
Pelemahan ini dipicu oleh kuatnya sentimen eksternal dari kebijakan bank sentral AS.
Data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia (BI) menempatkan rupiah di posisi Rp17.826 per dolar AS, sama dengan penutupan perdagangan sebelumnya.
Proyeksi Pergerakan Rupiah
Presiden Komisaris HFX International Berjangka, Sutopo Widodo, memproyeksikan rupiah akan bergerak fluktuatif dalam rentang konsolidasi Rp17.800 hingga Rp17.950 per dolar AS pada Senin (22/6/2026).
Menurutnya, tekanan dari sinyal hawkish Federal Reserve masih menjadi perhatian utama pasar.
"Secara teknikal dan fundamental, rupiah kemungkinan besar masih akan bergerak dalam rentang konsolidasi yang cenderung fluktuatif," ujar Sutopo.
Tiga faktor utama akan memengaruhi pergerakan pasar awal pekan depan: dampak lanjutan pengetatan moneter The Fed tahun 2026, persiapan pelaku pasar terhadap aturan devisa BI per 1 Juli 2026, serta ketidakpastian geopolitik Timur Tengah dan hasil review MSCI.
Research and Development ICDX, Muhammad Amru Syifa, memperkirakan rupiah bergerak fluktuatif dengan kecenderungan menguat terbatas pada rentang Rp17.700 hingga Rp17.860 per dolar AS.
>>> John Herdman Rela Lewatkan Piala Dunia 2026 Demi Timnas Indonesia
Langkah BI menaikkan suku bunga acuan total 100 basis poin sejak Mei 2026 menjadi 5,75 persen belum mampu menahan laju pelemahan.
"Kondisi ini menunjukkan bahwa sentimen global masih menjadi faktor utama yang mempengaruhi pergerakan rupiah," ucap Amru.
Dari sisi eksternal, rupiah tertekan oleh sikap The Fed yang mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama dan tingginya imbal hasil obligasi pemerintah AS.
Faktor lain termasuk pemantauan kesepakatan pelayaran Selat Hormuz antara AS dan Iran.
Amru menambahkan, "Kondisi tersebut membatasi ruang penguatan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah."
>>> John Herdman Pilih Fokus Tangani Timnas Indonesia daripada Tonton Piala Dunia 2026
Faktor dominan yang memengaruhi pasar awal pekan depan meliputi dinamika hubungan bilateral AS-Iran, fluktuasi harga minyak mentah dunia, indeks DXY, yield obligasi AS, dan sentimen investor terkait indeks MSCI.
Update Terbaru
Gibran Kunjungi Asmat, Beri Tanda Tangan dan Tampung Aspirasi Warga
Minggu / 21-06-2026, 13:12 WIB
Tujuh Haji Sumbar Masih Dirawat di Arab Saudi, 10 Wafat
Minggu / 21-06-2026, 13:12 WIB
Komdigi Perkuat Peran Global Lewat UNESCO IPDC
Minggu / 21-06-2026, 13:12 WIB
Menteri Bahlil Pastikan Pasokan Batu Bara ke PLN Aman, Pemadaman karena Teknis
Minggu / 21-06-2026, 13:11 WIB
Aviliani Soroti Risiko Perlambatan Kredit Akibat Kenaikan BI Rate
Minggu / 21-06-2026, 13:11 WIB
CIMB Niaga Pertahankan Target Bisnis 2026 Meski BI Naikkan Suku Bunga
Minggu / 21-06-2026, 13:09 WIB
MG S5 EV Resmi Meluncur, Harga OTR Mulai Rp333,9 Juta
Minggu / 21-06-2026, 13:08 WIB
3 Cara Ampuh Atasi Kantuk Setelah Makan Siang, Biar Tetap Fokus
Minggu / 21-06-2026, 13:08 WIB
4 Sabun Wajah untuk Menyamarkan Flek Hitam dan Mencerahkan Kulit
Minggu / 21-06-2026, 13:08 WIB
MAPPA Produksi Jujutsu Kaisen Season 4 dan Rilis Teaser Perdana
Minggu / 21-06-2026, 13:08 WIB
Jepang Hancurkan Tunisia 4-0 di Piala Dunia 2026
Minggu / 21-06-2026, 13:08 WIB
Kemenhaj Berangkatkan 129.025 Jemaah Haji RI Kembali ke Tanah Air
Minggu / 21-06-2026, 13:08 WIB
Pendaftaran SPMB Kabupaten Bogor 2026 Dibuka untuk TK, SD, dan SMP
Minggu / 21-06-2026, 13:06 WIB
Korlantas Polri Tegaskan Sanksi bagi Pelanggar Zebra Cross
Minggu / 21-06-2026, 13:06 WIB






