Pendaftaran Program Indonesia Pintar (PIP) melonjak dalam beberapa waktu terakhir. Lonjakan ini dipicu oleh ancaman pemutusan hubungan kerja (PHK) yang membayangi sektor manufaktur.

PIP merupakan bantuan tunai pendidikan dari pemerintah untuk anak sekolah dan mahasiswa dari keluarga miskin. Besarannya mencapai Rp1,8 juta per siswa per tahun.

in1

>>> Suzuki Luncurkan Jimny XL Rhino Edition Terbatas di Australia, Harga Tembus Rp 542 Juta

Peningkatan minat terhadap PIP dinilai menjadi sinyal awal tekanan ekonomi yang mulai dirasakan rumah tangga.

Direktur Ekonomi Digital CELIOS Nailul Huda mengatakan, masyarakat yang menghadapi kondisi ekonomi sulit akan berupaya bertahan dengan berbagai cara.

"Ketika seseorang terdesak karena kondisi ekonomi yang memburuk, tentu bertahan adalah opsi yang akan diambil. Bertahan ini bukan hanya mendapatkan pendapatan dan/atau mengurangi pengeluaran.

Salah satu cara mengurangi pengeluaran namun tidak mengurangi kepentingan tertentu ya mencari program bansos dan/atau bantuan pendidikan," ujar Huda kepada Suara.

com, Jumat (19/6/2026).

Menurutnya, PIP menjadi alternatif yang banyak dicari karena dapat membantu mengurangi beban biaya pendidikan.

Dengan demikian, dana yang sebelumnya untuk kebutuhan sekolah anak dapat dialihkan ke kebutuhan pokok lainnya.

Huda menilai tren peningkatan minat terhadap bantuan pendidikan berpotensi terus berlanjut seiring meningkatnya risiko PHK di berbagai sektor industri.

Kondisi ini membuat rumah tangga semakin berhati-hati dalam mengatur keuangan dan mencari bantuan pemerintah.

>>> Kemnaker Evaluasi Sebaran Program Magang Nasional yang Terpusat di Jawa

"Terlebih di kondisi dimana ancaman PHK meningkat pasti siasat untuk bertahan akan semakin kencang. Maka tidak heran permintaan untuk bansos dan PIP akan meningkat ke depan," ucapnya.

Ia menambahkan, pendidikan tetap harus dipenuhi meski kondisi ekonomi keluarga tertekan. Ketika pencari nafkah utama kehilangan pekerjaan, keberlanjutan pendidikan anak ikut rentan.