PT PLN (Persero) menghadapi kekurangan pasokan batu bara jenis medium range coal (MRC) sekitar 20 juta ton hingga akhir tahun 2026.

Kondisi ini menjadi tantangan operasional bagi perusahaan listrik milik negara tersebut.

in1

>>> IHSG Dibuka Melemah ke Level 6.161, Rupiah Masih Tertekan

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) merespons dengan membentuk tim gabungan pengadaan batu bara untuk PLN.

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengumumkan hal itu dalam rapat kerja bersama Komisi XII DPR RI pada Senin (15/6/2026).

Tim tersebut terdiri dari PLN, Inspektorat Jenderal, Direktorat Jenderal Mineral dan Batu Bara, serta Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP).

Langkah ini diambil untuk memastikan pengawasan energi primer berjalan optimal.

Direktur Manajemen Pembangkitan PLN Rizal Calvary Marimbo tidak merinci angka pasti Hari Operasi Pembangkit (HOP) yang ditopang cadangan batu bara.

Namun, ia menyebut pasokan harian masih terus masuk menggunakan tongkang.

"Kalau HOP itu kan setiap hari pasti ada tambahan-tambahan, walaupun challenging, tapi biasanya setiap hari ada saja datang kapal," kata Rizal, Kamis (18/6/2026) malam.

Ia menegaskan pemenuhan batu bara MRC tetap menjadi tantangan hingga akhir tahun.

Kewajiban DMO dan Realisasi Kontrak

Pemerintah menetapkan kewajiban Domestic Market Obligation (DMO) sebesar 190 juta ton dengan alokasi khusus bagi PLN sebesar 154 juta ton.

>>> Pemerintah Diminta Revisi APBN 2026 Akibat Selisih Asumsi ICP dan Harga Minyak

Namun, realisasi kontrak baru mencapai 134 juta ton.

"Dari 190 juta ton yang sudah dilakukan kontrak sebesar 134 juta ton.

Artinya, dari total kebutuhan PLN 154 juta, tinggal kurang 20 juta metrik ton yang belum dikontrakkan," ujar Bahlil.