Pendamping terapi Alejandro Cottaro mengungkapkan bahwa dirinya mengalami kesulitan besar saat merawat Diego Armando Maradona karena sang legenda sepak bola sengaja diisolasi oleh tim medisnya sebelum wafat.

Kesaksian tersebut disampaikan dalam persidangan kasus kematian pesepak bola bernomor punggung 10 itu yang digelar di Buenos Aires pada Kamis, 18 Juni 2026.

in1

>>> Rockstar Gratiskan Pembaruan GTA 5 ke Konsol Generasi Baru

Cottaro mulai mendatangi rumah tempat Maradona menjalani perawatan mandiri pada 13 November 2020, tepat dua belas hari sebelum sang bintang dinyatakan meninggal dunia akibat kegagalan fungsi tubuh.

Ia direkrut oleh saudaranya, Carlos Cottaro, yang bertugas mengoordinasikan tim pendamping terapi untuk memantau kondisi kesehatan emosional dan fisik pasien ketergantungan.

Kendati demikian, intervensi medis dari lingkaran terdekat Maradona membuat proses pemulihan psikologis tersebut tidak dapat berjalan secara efektif sejak hari pertama.

"Él estaba blindado. Me decían 'no lo jodas, tratá de estar más lejos'.

Eso hizo que mi trabajo no se pudiera hacer", ujar Alejandro Cottaro.

Gangguan dari pihak luar terjadi saat Maradona mulai terbuka membicarakan rasa cintanya kepada anak-anak dan cucunya, yang kemudian langsung dihentikan secara paksa oleh salah satu orang dekat sang atlet.

"Me cortaron justo el momento en el que empezaba a soltarse y de eso se trata el acompañamiento.

Yo no pude ni empezar a hacer nada", kata Alejandro Cottaro.

>>> Suku Bunga Global Tinggi Tekan Harga Emas Spot

Setelah insiden pemutusan percakapan emosional tersebut, Alejandro diminta untuk menjauh dan psikiater Agustina Cosachov meminta penghentian sementara seluruh program pendampingan terapi tanpa ada pemanggilan kembali.