Persidangan kasus kematian Diego Armando Maradona kembali digelar di Pengadilan Oral Kriminal (TOC) N° 7 San Isidro, Buenos Aires.

Agenda sidang kali ini mendengarkan kesaksian dari para pendamping terapeutik dan pekerja domestik.

in1

>>> Argentina vs Austria: Laga Bersejarah Perebutan Puncak Grup J Piala Dunia 2026

Para saksi mengungkap adanya isolasi serta manipulasi oleh lingkaran terdekat sang bintang sebelum wafat.

Saksi pertama yang memberikan keterangan adalah Carlos Cottaro, yang bertugas mendampingi Maradona selama masa pemulihan pascaoperasi.

Carlos Cottaro menyatakan bahwa koordinasi antarprofesional medis tidak berjalan harmonis. Ia juga melihat langsung bagaimana akses komunikasi untuk keluarga inti dibatasi secara ketat oleh pihak pengelola rumah.

"A Diego le manejaban los teléfonos y los llamados no pasaban.

Vi la manipulación telefónica que había, (controlaban) si las hijas lo podían ver o no," kata Carlos Cottaro.

Kesaksian Pendamping Terapeutik

Alejandro Cottaro, pendamping terapeutik lainnya, mengaku terkejut atas kematian Maradona karena kondisi fisiknya terlihat stabil beberapa hari sebelumnya.

"Yo me fui el 13 y murió el 25. Yo lo vi bien.

Es al día que hoy que no lo puedo creer que esté muerto," ujarnya.

>>> Timnas Argentina Bersiap Hadapi Austria di Tengah Masalah Keluarga Messi

Ia mengidentifikasi adanya penolakan terselubung dari orang-orang di sekitar yang sengaja membatasi ruang geraknya. Hal ini menghambat deteksi tanda-tanda adiksi atau gejala putus zat pada pasien.

Sebagai seorang penyintas adiksi, Alejandro Cottaro menilai lingkungan tempat tinggal pasien sengaja dikondisikan agar tidak tersentuh pemantauan profesional luar.

"Me decían ‘no lo jodan, tratá de estar más lejos’. Eso hizo que mi trabajo no se pueda realizar," bebernya.