Kesepakatan yang terjalin antara AS dan Iran memuat 14 poin utama, termasuk perpanjangan gencatan senjata April selama masa negosiasi 60 hari.

Perjanjian ini juga mengatur pembukaan kembali jalur pelayaran Selat Hormuz secara bertahap dengan target pemulihan total dalam waktu 30 hari.

in1

Cakupan wilayah kesepakatan ini turut menyertakan Lebanon, yang menjadi lokasi kampanye militer Israel melawan Hezbollah. Namun, beberapa isu besar seperti program nuklir Iran masih ditunda dalam pembahasan tersebut.

Kesepakatan ini juga melibatkan rencana ketersediaan dana pemulihan untuk Iran sebesar 300 miliar dolar AS. Dana bantuan tersebut rencananya akan disokong oleh AS bersama para mitra sekutunya.

Proyeksi Lembaga Keuangan Global

Sejumlah institusi finansial dunia memperkirakan pemulihan arus minyak di Selat Hormuz akan berlangsung secara bertahap.

Goldman Sachs memproyeksikan aktivitas ekspor di Teluk kembali normal pada akhir Juli 2026, diikuti pemulihan produksi minyak pada Oktober 2026.

Lembaga tersebut memprediksi adanya kenaikan arus Hormuz sekitar 13 juta barel per hari. Angka ini setara dengan kisaran 70 persen dari level yang tercatat sebelum masa perang.

Di pihak lain, BNP Paribas berpendapat bahwa harga minyak tidak akan kembali ke level sebelum konflik.

Mereka memperkirakan tingkat harga 75 dolar AS per barel akan menjadi batas bawah yang bertahan, mengingat tingginya permintaan dan gangguan pasokan yang masih membayangi.

Tekanan di pasar energi juga diperparah oleh aktivitas militer regional lainnya.

>>> Superindo Meruya Bagikan Produk Gratis Selama Grand Opening

Ukraina dilaporkan kembali meluncurkan serangan ke kilang minyak di Moskow untuk kedua kalinya dalam satu pekan sebagai unjuk peningkatan kapasitas militer mereka.