Penerbitan Obligasi Korporasi Diprediksi Tertahan Akibat Kenaikan BI Rate
Penerbitan obligasi korporasi di Indonesia pada tahun ini diproyeksikan melambat akibat lonjakan suku bunga acuan (BI Rate) dan peningkatan yield Surat Utang Negara (SUN).
Kenaikan instrumen pasar uang tersebut membuat para pelaku usaha cenderung menahan emisi surat utang baru.
>>> Atur Keuangan Lewat Prinsip 50-30-20 untuk Jaga Stabilitas Finansial
Pengamat pasar obligasi, Fikri, mengatakan bahwa dengan kenaikan BI Rate, kenaikan yield SUN, dan tingginya imbal hasil pasar uang, penerbitan obligasi korporasi agak sedikit tertahan.
Tren kenaikan suku bunga belakangan ini berimbas langsung pada lonjakan yield di pasar obligasi nasional.
Yield Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun sempat menyentuh 7,4 persen pada pekan lalu sebelum melandai ke 6,968 persen seiring meredanya ketegangan geopolitik global.
Situasi ini memicu peningkatan imbal hasil pada obligasi korporasi dan instrumen pasar uang lain seperti SRBI dan deposito.
Akibatnya, investor kini memiliki alternatif investasi berisiko lebih rendah dengan imbal hasil tetap tinggi.
Berdasarkan data PT Penilai Harga Efek Indonesia (PHEI), pasar obligasi korporasi domestik mencatat pertumbuhan kuat dalam beberapa tahun terakhir.
>>> Biaya Perawatan Peugeot Lawas Ternyata Tidak Semahal Anggapan Orang
Pada 2025, nilai penerbitan obligasi korporasi menembus rekor Rp 216,68 triliun, melampaui nilai jatuh tempo Rp 151,39 triliun.
Namun, volume penerbitan tahun ini diperkirakan lebih rendah.
Hingga 12 Juni 2026, nilai penerbitan baru baru mencapai Rp 75,84 triliun, sementara nilai jatuh tempo diproyeksikan Rp 155,02 triliun.
Fikri menilai instrumen obligasi masih menarik jika menawarkan spread di atas 50 basis poin terhadap SUN untuk peringkat AAA dengan tenor serupa.
Pergerakan yield ke depan dipengaruhi likuiditas domestik, inflasi AS, kebijakan The Fed, stabilitas rupiah, aliran dana asing, dan hasil pemeringkatan internasional.
Investor disarankan melakukan diversifikasi portofolio, dengan porsi pada instrumen pasar uang jangka pendek atau SBN tenor panjang dengan yield 7,3-7,5 persen.
>>> Harga Buyback Emas Antam Naik Rp14.000 Jadi Rp2.514.000 per Gram
Fikri juga menambahkan bahwa beberapa saham dengan fundamental baik sudah cukup murah dan layak dipertimbangkan, namun investor tetap perlu menjaga porsi dana di instrumen pasar uang.
Update Terbaru
Kejagung Tetapkan Ketua Yayasan Indonesia Food Security Review Tersangka Korupsi MBG
Jumat / 19-06-2026, 04:28 WIB
Mengenal Asal-usul dan Karakteristik Unik Nasi Uduk Betawi
Jumat / 19-06-2026, 04:27 WIB
Ratusan Calon Dokter Terancam Drop Out Akibat Batas Masa Studi
Jumat / 19-06-2026, 04:27 WIB
Ratusan Drone Ukraina Lumpuhkan Kilang Minyak dan Bandara Moskow
Jumat / 19-06-2026, 04:26 WIB
Gempa Palu 6,7 SR Tewaskan Tiga Warga Sigi, Ratusan Luka
Jumat / 19-06-2026, 04:25 WIB
Rizky Billar Laporkan Enam Akun Medsos ke Polda Metro Jaya
Jumat / 19-06-2026, 04:25 WIB
HokBen Promo Paket Hoka Murah Rp 18.000 Khusus Dine In hingga Akhir April 2026
Jumat / 19-06-2026, 04:25 WIB
PN Jakarta Pusat Eksekusi Lahan Eks Hotel Sultan di GBK
Jumat / 19-06-2026, 04:25 WIB
Pohon Durian di Perumahan Serangoon Singapura Menarik Perhatian Warga
Jumat / 19-06-2026, 04:24 WIB
Harga Emas Antam di Pegadaian 18 Juni 2026 Naik, Cek Rinciannya
Jumat / 19-06-2026, 04:24 WIB
Swiss Raih Kemenangan Perdana Usai Gilas Bosnia 4-1
Jumat / 19-06-2026, 04:24 WIB
Jadwal Timnas Indonesia di Kualifikasi Mobile Legends Asian Games 18 Juni 2026
Jumat / 19-06-2026, 04:24 WIB
Alice Norin Periksa Kesehatan Organ Reproduksi ke Singapura
Jumat / 19-06-2026, 04:24 WIB
Ducati Indonesia Luncurkan DesertX V2 dan Resmikan Showroom Baru
Jumat / 19-06-2026, 04:23 WIB






