Sebagian besar pelancong jarak jauh pernah merasakan disorientasi akibat melewati beberapa zona waktu: merasa sangat lelah di siang hari, namun sulit tidur di malam hari.

Jet lag adalah ketidaksesuaian antara jam tubuh internal kita dengan zona waktu yang kita tempati.

in1

>>> Lima Keunggulan Layar Samsung Galaxy S26 Ultra yang Membuatnya Berbeda

Istilah "jet lag" pertama kali muncul dalam artikel Los Angeles Times tahun 1966, di mana jurnalis Horace Sutton menggambarkan gejala yang dialami pelancong jet jarak jauh sebagai "tidak berbeda dengan mabuk".

Menurut Dr. Charles Czeisler, profesor pengobatan tidur di Harvard Medical School, sebelum perjalanan udara, orang bergerak melalui darat atau laut cukup lambat sehingga ritme sirkadian mereka tidak terganggu.

Jet lag adalah respons normal tubuh terhadap lompatan zona waktu.

Namun, beberapa kelompok—termasuk orang dewasa yang lebih tua, pelancong frekuen, dan penderita gangguan suasana hati atau tidur—lebih rentan mengalami gejala.

Dampak Kesehatan Jet Lag

Meskipun tampak sepele, jet lag dalam jumlah kecil pun dapat berdampak serius pada kesehatan.

Czeisler mencontohkan, saat jam bergerak maju—yang menciptakan satu jam jet lag—kecelakaan mobil fatal meningkat.

Mengemudi setelah penerbangan jarak jauh berbahaya karena kurang tidur adalah penyebab kecelakaan mobil yang diketahui.

Pergeseran ritme sirkadian bahkan dapat "memicu mania atau depresi" pada beberapa orang.

Sebuah studi menemukan bahwa 186 orang selama dua tahun dirawat di rumah sakit jiwa dari Bandara Heathrow dengan kondisi kesehatan mental terkait jet lag, seperti depresi dan hipomania.

Penelitian lain menunjukkan bahwa jet lag kronis dapat meningkatkan risiko gangguan neurologis.

Cara Meminimalkan Jet Lag

Cara terbaik untuk menyesuaikan diri dengan zona waktu baru adalah melalui paparan cahaya.