Perdebatan subsidi jangan dijebak dalam dua sisi koin pro rakyat atau anti rakyat.

Pertanyaannya adalah siapa yang menerima, berapa besar, lewat mekanisme apa, dan apakah desainnya menjaga kesehatan APBN.

Di tengah rupiah lemah, pemerintah tidak bisa sembarangan menaikkan harga. Kenaikan harga energi bisa menjalar ke biaya transportasi, harga pangan, dan ekspektasi inflasi.

Namun, menahan harga terlalu lama juga bukan solusi permanen. Jika beban fiskal membesar, pasar akan mempertanyakan kredibilitas APBN, yang bisa kembali menekan rupiah.

Yang dibutuhkan adalah keberanian memperbaiki desain subsidi. Subsidi perlu digeser dari berbasis barang menuju berbasis penerima manfaat.

Bantuan langsung kepada kelompok miskin dan rentan lebih transparan dibanding membuat harga murah untuk semua orang. Pemerintah juga perlu memperkuat data penerima dan komunikasi publik.

Politik harga murah memang obat ampuh jangka pendek.

Namun, di tengah rupiah lemah dan ruang fiskal terbatas, harga murah yang tidak tepat sasaran bisa menjadi beban mahal.

Yang harus dijaga bukan ilusi bahwa semua harga bisa terus ditahan, tetapi kepastian bahwa kelompok paling membutuhkan tetap dilindungi.

>>> Kebiasaan Mengisi Daya Pengaruhi Usia Pakai Baterai Motor Listrik

Negara yang kuat mampu melindungi rakyat tanpa mengorbankan kesehatan ekonominya sendiri.