Sejumlah bank Wall Street, investor asing, dan perusahaan multinasional berbondong-bondong membeli obligasi domestik berdenominasi yuan atau Panda Bonds dari China.

Obligasi ini dinilai menawarkan biaya pinjaman termurah di dunia.

>>> Cara Praktis Cek PKH 2026 Menggunakan NIK KTP Secara Online

Langkah tersebut dimanfaatkan otoritas Beijing untuk memperluas pengaruh yuan sebagai mata uang transaksi internasional. Peningkatan minat terjadi di tengah melebarnya selisih suku bunga antara China dan negara-negara Barat.

Menurut laporan CNBC pada Rabu (17/6/2026), obligasi panda dijual oleh penerbit luar negeri di pasar domestik China.

Instrumen ini menjadi penerima manfaat utama dari dorongan Beijing menginternasionalisasi mata uangnya.

Volume Penerbitan Cetak Rekor

Data Moody's Ratings menunjukkan volume penerbitan obligasi ini mencapai rekor 197,8 miliar yuan pada 2024. Pada 2025, nilainya mencapai 183,1 miliar yuan.

Memasuki minggu kedua Juni 2026, nilai penerbitan telah melewati 137,1 miliar yuan. Angka ini menandai lonjakan 80,4 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

>>> Disinformasi Tak Bisa Lagi Dibebankan ke Pengguna, Platform Digital Harus Bertanggung Jawab

Pada Mei 2026 saja, obligasi senilai 26,64 miliar yuan telah diterbitkan.

Moody's menyebut faktor utamanya adalah kesenjangan suku bunga pendanaan dalam yuan yang jauh lebih murah daripada dolar AS.

Selain pelaku pasar global, Indonesia turut memperluas penggunaan kerja sama mata uang lokal atau Local Currency Transaction (LCT) menggunakan rupiah dan yuan.

Langkah ini untuk memangkas ketergantungan pada dolar AS.

Kepala ekonom Bank Mandiri Andry Asmoro menyambut positif kebijakan diversifikasi mata uang tersebut.

>>> Mengapa Dorongan Scrolling Media Sosial Sulit Dihentikan

Ia menilai langkah Bank Indonesia dan Bank Mandiri sebagai strategi yang sangat positif untuk mendorong transaksi non-dolar AS.