Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) sukses menerbitkan obligasi global perdana senilai US$1,5 miliar atau sekitar Rp26,55 triliun pada Senin, 15 Juni 2026.

Penerbitan ini bertujuan menarik investasi asing ke Indonesia. Manajemen telah melakukan rangkaian penawaran ke berbagai pusat keuangan dunia sejak 3 Juni 2026.

>>> Tiga Bank Jepang Luncurkan Stablecoin Yen pada Maret 2027

Hasilnya, surat utang valuta asing ini mengalami kelebihan permintaan hingga 3,0 kali lipat dari target awal.

Puncak pemesanan menembus US$4,6 miliar atau sekitar Rp81,40 triliun.

Dua Tenor dengan Imbal Hasil Kompetitif

Obligasi global ini diterbitkan dalam dua tenor, masing-masing senilai US$750 juta.

Tenor lima tahun memiliki imbal hasil 5,35 persen, sedangkan tenor 10 tahun sebesar 5,96 persen.

Tingkat imbal hasil tersebut tercatat berada di bawah perkiraan pasar keuangan.

Chief Executive Officer Danantara, Rosan Roeslani, melaporkan pencapaian ini langsung kepada Presiden RI Prabowo Subianto di Istana Kepresidenan, Jakarta.

Respons positif dari 122 investor global berhasil membalikkan persepsi keraguan pasar menjadi tren positif bagi iklim investasi nasional.

"Bond kita ini memang sangat sukses, dilihat dari segi permintaannya, yield-nya yang relatif rendah," ungkap Rosan.

>>> Fare Desak FIFA Copot Wasit Shaun Evans dari Piala Dunia 2026

Rencana Penerbitan Obligasi 30 Tahun

Keberhasilan ini mematahkan spekulasi negatif sejumlah pihak yang meragukan daya serap pasar. Manajemen kini mengkaji peluang penerbitan surat utang jangka panjang berdurasi tiga dekade.

"Rencananya kita kalau menerbitkan obligasi, kita akan lihat bisa sampai yang 30 tahun, karena appetite-nya itu sangat besar," jelas Rosan.

Tingginya kepercayaan ini mencerminkan fundamental ekonomi nasional yang kokoh di tengah gejolak geopolitik dunia.

Proses administrasi penerbitan telah diselesaikan secara legal. Dana investasi dijadwalkan masuk ke rekening resmi lembaga pada 18 Juni 2026.

Masuknya modal asing ini diyakini memberikan dampak positif terhadap penguatan nilai tukar rupiah dan Indeks Harga Saham Gabungan.

"Penguatan tidak akan terjadi kalau tidak melakukan apa-apa," kata Rosan.

Penurunan indeks saham domestik hingga sekitar 30 persen sepanjang tahun berjalan dinilai menjadi momentum masuk yang tepat bagi investor jangka panjang.

>>> Bursa Saham AS Menguat Imbas Kesepakatan Awal Washington dan Teheran

Tata kelola yang transparan dan akuntabel menjadi kunci menjaga stabilitas sentimen positif pasar.