Bursa saham Amerika Serikat dibuka menguat pada perdagangan Senin, 15 Juni 2026.

Apresiasi ini dipicu oleh optimisme investor setelah Washington dan Teheran mencapai kesepakatan awal untuk menyudahi perselisihan di Timur Tengah sekaligus membuka kembali Selat Hormuz.

>>> BGN Kaji Pengurangan 8 Juta Penerima Makan Gratis pada 2027

Kabar positif tersebut langsung mendorong penurunan tajam harga minyak mentah hingga lebih dari 5 persen.

Penurunan ke level terendah sejak Maret 2026 ini meredakan kekhawatiran pelaku pasar terkait potensi gangguan pasokan energi global.

Indeks Dow Jones Industrial Average menguat 162,3 poin atau 0,32 persen ke level 51.364,55.

S&P 500 naik 1,15 persen ke posisi 7.516,75, dan Nasdaq Composite melonjak 2,16 persen menjadi 26.447,23.

Meskipun demikian, kerangka kesepakatan awal tersebut belum menyentuh sejumlah isu krusial. Beberapa di antaranya meliputi program nuklir Iran serta konflik antara Israel dan Lebanon.

Kesepakatan formal rencananya akan ditandatangani di Swiss pada Jumat mendatang.

Sektor Energi Tertekan, Saham Penerbangan Terbang

Pelemahan harga minyak menjadi stimulus positif bagi sektor yang sensitif terhadap biaya energi, seperti maskapai penerbangan dan operator kapal pesiar.

Saham United Airlines naik 4,5 persen dalam perdagangan premarket, sementara Delta Air Lines dan American Airlines masing-masing menguat sekitar 4 persen.

Norwegian Cruise Line dan Carnival Corp juga ikut terangkat sekitar 4 persen.

Sebaliknya, saham perusahaan energi justru tertekan akibat penurunan harga minyak bumi. Saham Exxon Mobil dan Chevron masing-masing mengalami penurunan sekitar 3 persen.

Merosotnya harga energi dinilai berpotensi meredakan tekanan inflasi. Kondisi tersebut membuka ruang bagi bank sentral AS untuk melonggarkan kebijakan moneter di masa depan.