Piala Dunia 2026 diwarnai kontroversi baru. Seorang petugas VAR menjadi sorotan setelah gestur tangannya menuai kecaman.

Jaringan antirasisme Fare mendesak FIFA untuk segera mencopot wasit asal Australia, Shaun Evans, dari turnamen tersebut.

>>> Bursa Saham AS Menguat Imbas Kesepakatan Awal Washington dan Teheran

Desakan ini disampaikan menyusul insiden yang terjadi menjelang pertandingan Jerman melawan Curaçao di Houston.

Kamera di ruang operasi VAR di Dallas menangkap Evans saat diduga membuat gestur tangan menyerupai tanda "OK".

Gerakan tersebut dilakukan di bawah pinggang dan dinilai memiliki kemiripan dengan simbol yang kerap dikaitkan dengan kelompok supremasi kulit putih.

Fare, organisasi yang bermitra dengan FIFA dan UEFA untuk memantau diskriminasi di sepak bola, segera merilis pernyataan resmi.

>>> BGN Kaji Pengurangan 8 Juta Penerima Makan Gratis pada 2027

Mereka menganggap tindakan Evans sebagai persoalan serius.

"Menurut para ahli kami, gestur tersebut jelas menyerupai simbol ‘OK’ terbalik yang digunakan sebagai lambang supremasi kulit putih di lingkaran ekstrem kanan global," tulis Fare dalam pernyataannya.

Organisasi ini menuntut langkah tegas dari FIFA agar Evans tidak lagi dilibatkan dalam pertandingan tersisa.

"Jelas, wasit ini tidak seharusnya lagi menjalankan peran apa pun di Piala Dunia ini," tegas mereka.

>>> Meta Kembangkan Model AI Baru untuk Dongkrak Komersialisasi

Hingga saat ini, FIFA belum memberikan pernyataan resmi terkait tuntutan Fare. Belum ada keputusan lebih lanjut mengenai status Shaun Evans di Piala Dunia 2026.