>>> Surah Al-Insyirah Ayat 7-8: Formula Muslim Jaga Keseimbangan Hidup

Ketergantungan yang tinggi terhadap sosok pemilik menjadi karakteristik utama UMKM di Indonesia saat ini.

Sebagian besar masih berada di skala mikro atau ultramikro, memakai tenaga kerja keluarga, serta belum memisahkan keuangan rumah tangga.

Kebutuhan modal antara pelaku usaha formal dan informal juga memiliki perbedaan mendasar. Sektor formal umumnya memanfaatkan kredit bank untuk kebutuhan operasional serta menopang modal kerja.

Aspek pembukuan yang tertata dan tingkat digitalisasi yang tinggi terbukti memiliki korelasi langsung. Kedua faktor tersebut mendorong peningkatan kinerja usaha secara signifikan.

Rekomendasi Perbanas untuk Revitalisasi Kredit UMKM

Ketua Umum Perbanas Hery Gunardi mengingatkan pentingnya memperkuat sektor UMKM. Langkah revitalisasi kredit perlu dilakukan dengan membangun ekosistem usaha secara menyeluruh, tidak sekadar menyalurkan modal.

"Sebagai tulang punggung ekonomi, sektor UMKM perlu diperkuat agar kontribusinya terhadap perekonomian nasional terus meningkat," ujar Hery.

Perbanas menyusun lima poin rekomendasi kebijakan untuk memperkuat sistem pembiayaan bagi pelaku usaha. Langkah pertama difokuskan pada peningkatan pendampingan pembukuan sederhana, pemisahan rekening, digitalisasi transaksi, serta formalisasi usaha.

Poin kedua menyarankan penyusunan desain skema pembiayaan yang disesuaikan dengan karakteristik tiap segmen. Ketiga, memperluas pemanfaatan persediaan barang dan piutang sebagai alternatif agunan perbankan.

>>> Kemendagri Dorong Ekonomi Daerah Lewat Edaran Nobar Piala Dunia

Keberadaan pasar yang pasti dan hubungan dengan off-taker dinilai mampu meningkatkan produktivitas pembiayaan. Dukungan regulasi kuat diharapkan mengembalikan sektor ini sebagai motor pertumbuhan kredit dan ekonomi nasional.