Prospek Penurunan Harga

Pakar ekonomi energi Universitas Padjadjaran, Yayan Satyaki, menilai perdamaian Iran-AS menjadi sentimen positif bagi pasar energi global.

Tren penurunan harga minyak berpotensi berdampak pada harga BBM nonsubsidi di dalam negeri.

Namun, penurunan harga Pertamax hingga kembali ke level Rp 12.300 per liter tidak akan terjadi dalam waktu singkat.

"Pasti terjadi penurunan, tetapi tidak secepat itu," kata Yayan.

Ia memperkirakan harga minyak dunia akan terkoreksi 1% hingga 3% per hari selama beberapa bulan ke depan.

Pergerakan harga energi global masih bergantung pada situasi geopolitik dan implementasi perdamaian.

Yayan menambahkan, harga Brent berpotensi terus turun hingga awal Juli 2026, lalu naik lagi pada Agustus-September seiring berakhirnya musim panas di belahan bumi utara.

Pasar minyak global belum akan mencapai keseimbangan baru dalam waktu dekat.

Berdasarkan proyeksi STEO dari EIA AS, peningkatan produksi minyak AS hingga 14 juta barel per hari akan menahan kenaikan harga pascaperdamaian.

>>> Nike Bandung Rumahkan 4.000 Pekerja Akibat Pasokan Bahan Baku Terhambat

Dengan asumsi konflik berakhir, harga minyak diperkirakan bergerak di rentang US$ 80-90 per barel hingga akhir tahun, lalu turun ke US$ 75-85 per barel pada awal tahun depan.