Bank Indonesia (BI) memastikan industri perbankan nasional tetap kokoh di tengah meningkatnya ketidakpastian global dan dampak konflik di Timur Tengah.

Sektor perbankan yang solid ini menjadi modal penting untuk memelihara pertumbuhan kredit serta menopang aktivitas ekonomi domestik.

>>> Xiaomi Resmi Luncurkan Redmi Note 15 Series di Indonesia, Target Gen Z

Kondisi permodalan yang tinggi, likuiditas yang memadai, serta risiko kredit yang terkendali membuat BI memproyeksikan pertumbuhan kredit perbankan sepanjang tahun 2026 berada pada kisaran 8% hingga 12%.

“Ketahanan perbankan tetap kuat untuk memitigasi risiko dampak dari perang di Timur Tengah,” kata Gubernur BI Perry Warjiyo.

Rasio Kecukupan Modal dan NPL Terjaga

Penilaian ketahanan tersebut didasarkan pada rasio kecukupan modal (CAR) perbankan per April 2026 yang mencapai 23,97%.

Angka ini dinilai mampu menyerap potensi risiko dan mendukung ekspansi kredit sektor riil.

Rasio kredit bermasalah (NPL) bruto tercatat rendah sebesar 2,17% dengan NPL neto pada level 0,84%.

>>> Ahli Gizi: Faktor Genetik Bukan Penyebab Utama Obesitas

Pengujian ketahanan keuangan oleh bank sentral juga mengonfirmasi daya tahan industri perbankan nasional tetap tangguh menghadapi skenario terburuk dari kelanjutan konflik Timur Tengah.

Kapasitas pembiayaan masih sangat besar dengan adanya fasilitas pinjaman yang belum digunakan mencapai Rp 2.576 triliun atau 22,41% dari total plafon kredit hingga Mei 2026.

Dari sisi likuiditas, rasio Alat Likuid terhadap Dana Pihak Ketiga (AL/DPK) berada di angka 24,74%.

Hal ini seiring pertumbuhan DPK yang melonjak 13,47% secara tahunan pada Mei 2026.

Pertumbuhan kredit perbankan pun ikut menguat menjadi 11,51% secara tahunan pada Mei 2026.

>>> Wamen PPPA Dorong Gereja Perkuat Perlindungan Perempuan dan Anak Lewat Keluarga

Kenaikan ini ditopang oleh kredit investasi sebesar 21,95%, kredit modal kerja 8,09%, dan kredit konsumsi 5,89%.