Meski margin tertekan, laba bersih CMRY tetap tumbuh 15,65% YoY menjadi Rp 555 miliar dari sebelumnya Rp 479,86 miliar.

Kedua sekuritas menilai tekanan margin masih dapat dikelola melalui efisiensi biaya pemasaran dan promosi, serta pertumbuhan volume penjualan yang tetap kuat.

Raja dan Reinard menjelaskan adanya potensi perbaikan margin operasional seiring menurunnya rasio advertising and promotion terhadap penjualan. Hal tersebut didorong semakin kuatnya brand awareness produk Cimory di pasar.

Ekspansi kanal distribusi dinilai masih menjadi katalis pertumbuhan jangka panjang.

Perseroan menargetkan perluasan outlet general trade hingga sekitar 400.000 outlet dan agen Miss Cimory mencapai 18.000–20.000 dalam lima tahun mendatang.

Investor tetap perlu mencermati sejumlah risiko seperti pelemahan daya beli masyarakat, fluktuasi nilai tukar rupiah, kenaikan harga bahan baku global, hingga meningkatnya persaingan industri dairy dan consumer food.

Raja dan Reinard mempertahankan rekomendasi buy untuk CMRY dengan target harga Rp 6.600 per saham, naik dari sebelumnya Rp 6.200.

>>> Kemenimipas Edukasi Santri di Tangerang Cegah TPPO dan TPPM

Sementara itu, Rifdah juga mempertahankan rekomendasi buy dengan target harga Rp 6.850 per saham.