Seorang eksekutif senior Estée Lauder, Kendal Ascher, meninggal dunia pada Februari lalu di New York. Ia mengalami gagal napas akut setelah menjalani prosedur filler kosmetik.

Otoritas pemeriksa medis menyatakan pria berusia 56 tahun tersebut mengalami emboli paru akibat penyumbatan pembuluh darah.

>>> Portugal Gagal Kalahkan RD Kongo di Laga Perdana Grup K Piala Dunia 2026

Komplikasi langka ini diduga terjadi karena cairan filler tidak sengaja masuk ke dalam aliran darah.

Risiko Prosedur Filler

Dokter spesialis dermatologi kosmetik, Dr. Kenneth Mark, menjelaskan bahwa risiko tersebut muncul akibat salah suntik.

Namun, ia menegaskan insiden ini sangat jarang terjadi pada area wajah dan lebih sering ditemukan pada prosedur transfer lemak bokong.

"Bahkan jika seseorang hanya tertusuk jarum tanpa injeksi filler, pembengkakan reaktif tetap bisa terjadi.

Setelah filler disuntikkan, pembengkakan selama 24 hingga 72 jam masih dianggap normal," kata Dr. Kenneth Mark.

>>> Kemendikdasmen Paparkan Penerapan ESD di Satuan Pendidikan

Penyumbatan pembuluh darah atau vascular occlusion merupakan komplikasi paling serius dari prosedur ini. Jika terlambat ditangani, risikonya dapat memicu kerusakan jaringan, kebutaan, hingga emboli paru.

"Masih terlalu banyak orang yang melakukan prosedur injeksi kosmetik tanpa pelatihan dan pengalaman yang cukup.

Akibatnya, filler sering mendapat citra buruk karena penggunaan produk yang salah atau penyuntikan di area yang tidak tepat," ujar Dr. Kenneth Mark.

Kepala Bedah Plastik di North Shore University Hospital dan LIJ Medical Center, Dr. Lyle Leipziger, menambahkan bahwa filler wajah umumnya aman.

>>> Wamensesneg Pastikan Nasib Karyawan Eks Hotel Sultan Diperhatikan

Prosedur ini minimal risiko asalkan dilakukan oleh dokter yang memahami anatomi wajah secara mendalam.