Penguatan Pengolahan Coal Blending

Langkah pengetatan regulasi ini beriringan dengan pandangan Indonesian Mining & Energi Forum (IMEF).

>>> Swiss Hadapi Bosnia-Herzegovina di Laga Kedua Grup B Piala Dunia 2026

Ketua IMEF Singgih Widagdo menilai penguatan pengolahan coal blending merupakan jalan keluar krusial untuk mengamankan cadangan energi nasional.

Hal ini terjadi di tengah rencana pemangkasan target produksi batu bara dalam RKAB 2026 menjadi kisaran 600 juta ton, dari target tahun lalu sebesar 735 juta ton.

"Untuk memperkuat DMO, khususnya dalam mengamankan pasokan batu bara di dalam negeri, perlu diperkuat dengan coal blending," jelas Singgih saat dihubungi, Rabu (14/1/2026).

Singgih mengusulkan agar pengerjaan infrastruktur coal blending turut mendayagunakan modal dari Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara.

Hal ini untuk menjaga ketahanan sekaligus mengoptimalkan potensi laba dari cadangan komoditas tersebut.

"Bujet pembangunan coal blending, bisa saja dibangun Danantara.

Mengingat selain mendapatkan keuntungan, mengoptimalkan cadangan batu bara dan sekaligus menjaga keamanan pasokan batu bara nasional," kata Singgih.

Pihaknya memandang keterlibatan lembaga investasi tersebut selaras dengan implementasi program Asta Cita Presiden Prabowo demi kemandirian energi.

Evaluasi berkala terhadap manajemen RKAB tiga tahunan dinilai jauh lebih efektif bagi ratusan pelaku usaha.

>>> Elon Musk Kembangkan Chip AI Lebih Kencang dan Murah dari Nvidia

"Dengan pelaku usaha pertambangan sebanyak 963, sangat tidak mudah mengelola RKAB dalam tahunan," tuturnya.