Dua perusahaan, PT Prodia Diagnostic Line Tbk (PRDL) dan PT Niramas Utama Tbk (JELI), memulai masa penawaran awal (bookbuilding) saham perdana pada pekan yang sama di bulan Juni 2026.

Keduanya dijadwalkan resmi melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Juli 2026.

>>> Simulasi Biaya Tol dan BBM Jakarta-Yogyakarta Pakai Hyundai Stargazer

Prodia Diagnostic Line menawarkan sebanyak 522,9 juta saham baru atau setara 30 persen dari modal ditempatkan dan disetor penuh.

Harga yang ditawarkan berkisar Rp100 hingga Rp120 per lembar saham.

Anak usaha Grup Prodia yang memproduksi alat kesehatan In Vitro Diagnostic (IVD) ini menargetkan perolehan dana segar maksimal sebesar Rp62,748 miliar.

Berdasarkan prospektus awal yang diterbitkan pada 18 Juni 2026, dana IPO sebesar Rp35,67 miliar akan digunakan untuk melunasi sebagian pokok pinjaman kepada PT Bank Central Asia Tbk dan PT Bank Pan Indonesia Tbk.

Sekitar 28,92 persen dana dialokasikan untuk belanja modal, seperti pembelian mesin, peralatan kalibrasi, perangkat lunak, kendaraan, serta pengembangan fasilitas produksi.

Sisanya sebesar 8,51 persen digunakan untuk modal kerja.

Perusahaan yang memiliki jaringan distribusi di 370 kabupaten/kota ini mencatatkan pendapatan tahun 2025 sebesar Rp74,37 miliar dengan laba bruto Rp45,35 miliar.

Risiko utama yang dihadapi adalah ketergantungan pada belanja pemerintah di sektor kesehatan.

>>> Bank Sampoerna Buka Opsi Merger Antisipasi Rencana Kebijakan OJK

Sementara itu, PT Niramas Utama Tbk (JELI), produsen makanan penutup bermerek INACO, menawarkan maksimal 350 juta saham baru atau setara 25,93 persen dari modal ditempatkan.

Harga penawaran berkisar Rp900 hingga Rp1.120 per saham.

Perusahaan yang berdiri sejak 1990 ini membidik dana segar hingga Rp392 miliar.

Alokasi dana sebesar 51,04 persen akan disuntikkan ke anak usaha PT Niramas Pandaan Sejahtera (NPS) dan 18,36 persen untuk pembelian mesin baru.

Meskipun laba bersih JELI melonjak lebih dari 235 persen menjadi Rp39,03 miliar pada 2025 akibat efisiensi, pendapatannya menurun dari Rp838,94 miliar pada 2023 menjadi Rp753,05 miliar pada 2025.

Arus kas operasional juga mengalami penurunan sebesar 83,39 persen pada tahun buku 2025.

Proses penawaran umum perdana untuk kedua emiten dibantu oleh PT Sucor Sekuritas sebagai penjamin pelaksana emisi efek.

>>> Kasus Pemain Naturalisasi Ilegal Picu Pembersihan Massal di Timnas Malaysia

Saham JELI dijadwalkan tercatat di BEI pada 7 Juli 2026, sedangkan saham PRDL menyusul pada 9 Juli 2026.