Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) mengembangkan inovasi pengolahan sampah organik terpadu dengan memanfaatkan Black Soldier Fly (BSF) atau maggot.

Teknologi ini diharapkan menjadi solusi efektif dalam mengurai sampah sisa makanan di lingkungan kampus.

>>> Pertamina Patra Niaga Tegaskan Harga BBM Nonsubsidi Ikuti Pasar

Kepala Subdirektorat Infrastruktur Berkelanjutan UMY Ferriawan Yudhanto mengatakan, sampah organik basah dari kantin dan unit usaha kampus selama ini menjadi tantangan tersendiri.

Penggunaan maggot BSF dinilai sebagai pendekatan biologis yang paling tepat untuk menangani permasalahan tersebut.

"Sampah organik basah adalah jenis sampah yang paling sulit dikelola. Oleh karena itu kami mengembangkan pengolahan menggunakan maggot BSF.

Nantinya seluruh sisa makanan dari kantin dan berbagai unit usaha di lingkungan kampus akan diproses menjadi pakan maggot," kata Ferriawan di Yogyakarta, Kamis.

Menurut dia, efektivitas maggot BSF dalam mengurai sampah organik mampu mereduksi volume limbah makanan secara signifikan dalam waktu singkat.

Inovasi ini sekaligus mengubah paradigma sampah yang semula menjadi beban menjadi sumber daya yang produktif.

Pengolahan Sampah Organik Kering dan Kompos

Di samping pemanfaatan maggot, UMY juga secara konsisten mengolah sampah organik kering seperti dedaunan dan sisa pemangkasan tanaman menjadi kompos.

>>> Yield SBN Tenor 10 Tahun Turun ke 6,84% Jelang RDG BI

Hasil pengolahan kompos tersebut kemudian dimanfaatkan kembali untuk menunjang kebutuhan penghijauan dan pemeliharaan vegetasi di seluruh area kampus.

"Pemilahan harus dimulai dari diri kita sendiri.

Dengan memisahkan sampah organik basah dan kering sejak dari sumbernya, kami dapat menangani setiap karakteristik sampah sesuai dengan metode pengolahan yang tepat.

Sampah daun diolah menjadi kompos, sementara sampah sisa makanan dikelola lewat maggot BSF," ujar Ferriawan.