Ekonom: Kenaikan BI Rate Punya Manfaat dan Risiko Seimbang
Dalam situasi pasar yang sensitif terhadap isu fiskal, arus modal, dan stabilitas kebijakan, kenaikan BI Rate menunjukkan bahwa otoritas moneter tidak pasif.
Menurutnya, hal ini penting karena pasar sering menilai kredibilitas dari kecepatan dan ketegasan respons.
Jika BI terlambat, investor bisa menilai risiko Indonesia meningkat, sehingga meminta imbal hasil lebih tinggi atau keluar dari aset rupiah.
"Dengan langkah yang tegas, BI membeli waktu agar pemerintah dapat memperbaiki sisi fiskal, regulasi, dan kepercayaan pasar," jelas Josua.
Risiko Suku Bunga Acuan Tinggi
Di sisi lain, biaya kenaikan BI Rate juga besar. Kerugian paling langsung adalah biaya dana perbankan berpotensi naik.
Ketika suku bunga acuan naik, bank pada akhirnya perlu menyesuaikan bunga deposito untuk mempertahankan dana nasabah.
Jika biaya dana naik, bunga kredit akan lebih sulit turun dan bahkan bisa ikut naik secara bertahap.
Dampaknya terasa pada KPR, KKB, kredit modal kerja, kredit investasi, dan pembiayaan UMKM. Dunia usaha akan lebih berhati-hati memperluas usaha karena biaya pinjaman menjadi lebih mahal.
Kerugian kedua adalah tekanan terhadap konsumsi rumah tangga. Rumah tangga yang memiliki cicilan mengambang atau berencana mengambil kredit baru akan menghadapi beban yang lebih tinggi.
Konsumen juga cenderung menunda pembelian barang tahan lama seperti rumah, mobil, motor, elektronik, dan renovasi rumah.
Jika konsumsi melambat, dampaknya bisa menjalar ke ritel, otomotif, properti, konstruksi, serta sektor jasa.
>>> Timnas Kolombia Hadapi Uzbekistan di Laga Pembuka Piala Dunia 2026
"Dalam ekonomi Indonesia yang sangat bergantung pada konsumsi rumah tangga, ini menjadi risiko penting," katanya.
Kerugian ketiga yakni tekanan terhadap investasi dan pertumbuhan ekonomi. Suku bunga tinggi membuat perusahaan menunda ekspansi, terutama jika permintaan belum kuat dan rupiah masih bergejolak.
Update Terbaru
Messi Cetak Hattrick, Argentina Bantai Aljazair 3-0 di Piala Dunia 2026
Kamis / 18-06-2026, 12:28 WIB
Rupiah Melemah ke Rp17.796 per Dolar AS pada Kamis Siang
Kamis / 18-06-2026, 12:25 WIB
Blibli dan idEA Beri Tanggapan soal Kewajiban NIB dalam Permendag Terbaru
Kamis / 18-06-2026, 12:25 WIB
Dinkes Banten: Usia Produktif Dominasi Kasus Diabetes, Capai 94.607
Kamis / 18-06-2026, 12:24 WIB
Indef: KDMP Berpeluang Kurangi Ketergantungan pada Rentenir
Kamis / 18-06-2026, 12:24 WIB
Mayat Pria Paruh Baya Ditemukan Tergantung di Taman Pramuka Tangerang
Kamis / 18-06-2026, 12:24 WIB
Trump: AS Perlu Kesepakatan Denuklirisasi dengan Rusia dan China
Kamis / 18-06-2026, 12:24 WIB
Pabrik Jerman Buka Lowongan di Melaka, Ribuan Warga Antre hingga 2 Km
Kamis / 18-06-2026, 12:24 WIB
MSCI Pertimbangkan Turunkan Status Pasar Indonesia ke Frontier Market
Kamis / 18-06-2026, 12:24 WIB
Vivo X Fold 6 Siap Guncang Pasar HP Lipat dengan Kamera 200 MP dan Baterai 6900 mAh
Kamis / 18-06-2026, 12:21 WIB
Lexar Luncurkan SSD Edisi Argentina untuk Kreator Konten Digital
Kamis / 18-06-2026, 12:21 WIB
Kritik Mengemuka atas Indikasi Pelanggaran HAM dalam Program Makan Bergizi Gratis
Kamis / 18-06-2026, 12:20 WIB
Prodia Diagnostic Line dan Niramas Utama Gelar IPO pada Juni 2026
Kamis / 18-06-2026, 12:20 WIB
Simulasi Biaya Tol dan BBM Jakarta-Yogyakarta Pakai Hyundai Stargazer
Kamis / 18-06-2026, 12:20 WIB






