Nilai tukar rupiah dibuka melemah pada sesi perdagangan Kamis, 18 Juni 2026. Pelemahan ini terjadi seiring dengan menguatnya indeks dolar Amerika Serikat (AS) ke level 100,23.

Berdasarkan data Bloombergtechnoz, mata uang garuda tergerus 0,6 persen ke posisi Rp17.845 per dolar AS. Tren penurunan ini juga melanda sejumlah mata uang di kawasan Asia.

>>> Saham Telkom Anjlok 7,43 Persen pada Sesi Pertama Perdagangan

Beberapa mata uang yang turut melemah antara lain won Korea Selatan, ringgit Malaysia, peso Filipina, baht Thailand, serta dolar Taiwan dan Hong Kong.

Tekanan di pasar uang dipicu oleh kebijakan bank sentral AS, Federal Reserve, yang mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,5 persen sampai 3,75 persen.

Ekspektasi suku bunga AS yang bertahan tinggi dalam waktu lama mendorong kenaikan imbal hasil aset dolar.

Hal tersebut meningkatkan daya tarik investasi di pasar AS dan menekan aliran modal ke negara berkembang.

Pasar kini tengah mengamati potensi dampak inflasi yang berisiko muncul akibat konflik bersenjata antara AS dan Iran.

Situasi ini memperkuat perkiraan bahwa suku bunga global akan tetap tinggi atau bahkan naik lagi.

Analis: Suku Bunga Tinggi Tekan Mata Uang Asia

Analis Valas Bloomberg Economics, Audrey Childe-Freeman, menyebut langkah hawkish Federal Reserve membuat bank sentral di Asia masih memiliki ruang untuk menaikkan suku bunga lebih lanjut.

Menurut Audrey Childe-Freeman, pelemahan dolar AS yang lebih berkelanjutan terhadap mata uang Asia masih memerlukan sikap dovish dari Federal Reserve agar pasar dapat memperhitungkan peluang penurunan suku bunga.

>>> Saham LUCY Catat Crossing Rp524 Miliar di Pasar Negosiasi

"Tanpa sinyal tersebut, ekspektasi pelonggaran moneter AS akan tetap terbatas," sebut Childe-Freeman dalam catatannya.