Federal Reserve (The Fed) memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan pada kisaran 3,5 persen hingga 3,75 persen.

Keputusan ini diambil dalam rapat Federal Open Market Committee (FOMC) pada Rabu (17/6/2026).

>>> Messi Lolos Kartu Merah Usai Tekel Keras ke Bek Aljazair

Langkah tersebut merupakan respons terhadap lonjakan inflasi yang dipicu oleh kenaikan harga energi akibat konflik Iran. Para ekonom sebelumnya telah memperkirakan keputusan ini secara luas.

Rapat kali ini menjadi momen pertama bagi Ketua Federal Reserve yang baru, Kevin Warsh.

Ia ditunjuk oleh Presiden Donald Trump menggantikan Jerome Powell yang masa jabatannya berakhir pada Mei.

Para investor dan kini mengamati konferensi pers Warsh untuk mencari indikasi rencana pengelolaan ekonomi, pandangan inflasi, serta kondisi pasar tenaga kerja.

Sebelumnya, Presiden Trump berulang kali menekan Powell untuk menurunkan suku bunga.

Namun, inflasi AS saat ini berada pada level tertinggi dalam lebih dari tiga tahun, jauh di atas target tahunan bank sentral sebesar 2 persen.

>>> Kebijakan Jeda Minum Wajib di Piala Dunia 2026 Tuai Protes

Akibatnya, FOMC diproyeksikan akan mempertahankan kebijakan ini hingga akhir tahun. Kondisi internal bank sentral juga menjadi perhatian pengamat pasar keuangan.

Hank Smith, kepala strategi investasi di Haverford Trust, mengatakan bahwa Warsh memiliki dua tugas langsung dalam rapat pertamanya.

Pertama, menyelaraskan FOMC dan pimpinan The Fed dengan visinya ke depan. Kedua, memastikan pasar memiliki kepercayaan terhadap langkahnya.

Smith menilai situasi ekonomi saat ini tidak mendukung penurunan maupun kenaikan suku bunga acuan dalam waktu dekat.

"Ini bukan lingkungan untuk pemotongan atau kenaikan suku bunga — ini lingkungan untuk 'steady as she goes'," ujarnya.

>>> iHeartRadio Siarkan Gratis Seluruh Laga Portugal di Piala Dunia 2026

Ia akan mendengarkan apakah Warsh mampu menunjukkan disiplin dan membangun tim dalam konferensi pers pertamanya.