FIFA menerapkan kebijakan ketat bernama "clean stadium" dengan menghapus nama komersial dan menutupi logo sponsor non-resmi di seluruh stadion penyelenggara Piala Dunia 2026 di Amerika Utara.

Langkah ekstrem diambil di Boston Stadium, Massachusetts, di mana petugas menempelkan lakban biru untuk menutupi logo sponsor non-resmi pada 64.146 kursi satu per satu.

>>> Igor Stimac: Kroasia Temukan Suksesor Luka Modric

Tindakan ini dilakukan demi menjaga eksklusivitas mitra resmi FIFA.

Kebijakan tersebut memicu kritik keras dari publik di media sosial karena dinilai sangat berlebihan dan merepotkan saat harus dilepas kembali.

"Seseorang harus menempelkan lebih dari 64 ribu potongan lakban kecil di setiap kursi. FIFA benar-benar serius," tulis seorang pengguna media sosial.

Kritik terus bermunculan terkait kerumitan teknis pascaturnamen. "Melepasnya nanti pasti jauh lebih merepotkan," tulis pengguna lain.

Sebagian suporter bahkan menyindir sikap kaku FIFA. "Kalau sikap berlebihan FIFA bisa dijadikan sumber energi, mungkin bisa menyaingi tenaga nuklir," tulis komentar lain.

Kebijakan ini juga memaksa stadion besar lain seperti SoFi Stadium, MetLife Stadium, dan NRG Stadium mengganti nama sementara menjadi Stadion Los Angeles, Stadion New York New Jersey, dan Stadion Houston.

Para pemilik hak penamaan stadion yang telah membayar ratusan juta dolar AS dilaporkan meradang karena kehilangan visibilitas merek mereka selama ajang olahraga yang paling banyak ditonton di dunia.

"Mereka tidak senang, mereka membayar banyak uang untuk mendapatkan visibilitas di stadion-stadion itu, tetapi ini salah satu hal yang mungkin tidak mungkin mereka cegah," kata Rick Burton, profesor emeritus di Falk College of Sport Universitas Syracuse kepada AFP.

Burton menambahkan bahwa semua laga kali ini diselenggarakan di tempat yang sudah ada, berbeda dengan edisi Qatar yang membangun stadion khusus, sehingga isu penggantian nama sementara menjadi lebih menonjol.